Isnin, 1 Disember 2008

PENCETUS ISTILAH PERTAMA WAHABI

Oleh :

Al-Ustadz Jalâl Abŭ Alrŭb**

Editor :

Tim Riset Salafî Manhaj

Alih Bahasa :

Abŭ Salmâ bin Burhân Yŭsŭf

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan Nama Alloh yang Maha Pengasih Lagi Maha Pemurah

Suatu hal yang jelas bahwa Inggris merupakan negara barat pertama yang cukup interest menggelari dakwah ini dengan “Wahhabisme”, alasannya karena dakwah ini mencapai wilayah koloni Inggris yang paling berharga, yaitu India. Banyak ‘ulamâ` di India yang memeluk dan menyokong dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb. Juga, Inggris menyaksikan bahwa dakwah ini tumbuh subur berkembang dimana para pengikutnya telah mencakup sekelompok ‘ulamâ` ternama di penjuru dunia Islâm. Selama masa itu, Inggris juga mengasuh sekte (kelompok-tamb) Qâdhiyânî dalam rangka untuk mengganti mainstream ideologi Islam.1. Mereka berhasrat untuk memperluas wilayah kekuasaan mereka di India dengan mengandalkan sebuah sekte ciptaan mereka sendiri, Qâdhiyânî, yaitu sekte yang diciptakan, diasuh dan dilindungi oleh Inggris. Sekte yang tidak menyeru jihad untuk mengusir kolonial Inggris yang berdiam di India. Oleh karena itulah, ketika dakwah Imâm Ibn ‘Abdil Wahhâb mulai menyebar di India, dan dengannya datanglah slogan jihad melawan penjajah asing, Inggris menjadi semakin resah. Mereka pun menggelari dakwah ini dan para pengikutnya sebagai ‘Wahhâbi’ dalam rangka untuk mengecilkan hati kaum muslimin di India yang ingin turut bergabung dengannya, dengan harapan perlawanan terhadap penjajah Inggris tidak akan menguat kembali.2 Banyak ‘Ulamâ` yang mendukung dakwah ini ditindas, beberapa dibunuh dan lainnya dipenjara.3

Suatu hal yang perlu dicatat, di dalam surat-surat dan laporan-laporan yang dikirimkan kepada ayah tirinya dan pemerintahan ‘Utsmâniyyah (Ottomans), Ibrâhîm Basyâ (Pasha), anak angkat Muhammad ‘Alî Basyâ (Pasha), juga menggunakan istilah ‘Wahhâbi, Khowârij dan Bid’ah (Heretics)’ untuk menggambarkan dakwah Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb dan Negara Saudî4. Hal ini, tentu saja, terjadi sebelum Ibrâhîm Basyâ memberontak dan menyerang khilâfah ‘Utsmâniyyah dan hampir saja menghancurkannya di dalam proses pemberontakannya. Dr. Nâshir Tuwaim mengatakan :

Kaum Orientalis terdahulu, menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah, Wahhâbî, Wahhâbis’ di dalam artikel-artikel dan buku-buku mereka untuk menyandarkan (menisbatkan) istilah ini kepada gerakan dan pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb. Beberapa diantara mereka bahkan memperluasnya dengan memasukkan istilah ini sebagai judul buku mereka, semisal Burckhardt, Brydges dan Cooper, atau sebagai judul artikel mereka, seperti Wilfred Blunt, Margoliouth, Samuel Zwemer, Thomas Patrick Hughes, Samalley dan George Rentz. Mereka melakukan hal ini walaupun sebagian dari mereka mengakui bahwa musuh-musuh dakwah ini menggunakan istilah ini untuk menggambarkannya, padahal para pengikut Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb tidak menyandarkan diri mereka kepada istilah ini.

- Margoliouth5 sebagai contohnya, ia mengaku bahwa istilah ‘Wahhâbiyyah” digunakan oleh musuh-musuh dakwah selama masa hidup ‘pendiri’-nya, kemudian digunakan secara bebas oleh orang-orang Eropa. Walau demikian, ia menyatakan bahwa istilah ini tidak digunakan oleh para pengikut dakwah ini di Jazîrah ‘Arab. Bahkan, mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai “Muwahhidŭn”.

- Thomas Patrick Hughes6 menggambarkan “Wahhâbiyyah” sebagai gerakan reformis Islâm yang didirikan oleh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb, yang menyatakan bahwa musuh-musuh mereka tidak mau menyebut mereka sebagai “Muhammadiyyah” (Muhammadans), malahan, mereka menyebutnya sebagai ‘Wahhâbî’, sebuah nama setelah namanya ayahnya Syaikh….

- George Rentz7 mengatakan bahwa istilah ‘Wahhâbî’ digunakan untuk mengambarkan para pengikut Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb oleh musuh-musuh mereka sebagai ejekan bahwa Syaikh mendirikan sebuah sekte baru yang harus dihentikan dan aqidahnya ditentang. Mereka yang disebut dengan sebutan ‘Wahhâbî’ ini beranggapan bahwa Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb hanyalah seorang pengikut Sunnah, oleh karena itulah mereka menolak istilah ini dan bahkan menuntut agar dakwah beliau disebut dengan ‘ad-Da’wah ila’t Tauhîd’, dimana istilah yang tepat untuk menggambarkan para pengikutnya adalah ‘Muwahhidŭn’…. Rentz juga mengatakan bahwa, para penulis barat ketika menggunakan istilah ‘Wahhâbî’ adalah dengan maksud ejekan, ia juga menyatakan bahwa ia menggunakan istilah itu sebagai klarifikasi.8

Biar bagaimanapun, siapa saja yang menggunakan istilah ini , baik dari masa lalu sampai saat ini, telah melakukan beberapa kesalahan, diantaranya :

- Mereka menyebut dakwah Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb sebagai ‘Wahhâbiyyah’, walaupun dakwah ini tidak dimulai oleh ‘Abdul Wahhâb, namun oleh puteranya Muhammad.

- Pada awalnya, ‘Abdul Wahhâb tidak menyetujui dakwah puteranya dan menyanggah beberapa ajaran puteranya. Walau demikian, tampak pada akhir kehidupannya bahwa beliau akhirnya menyetujui dakwah puteranya. Semoga Alloh merahmatinya.

Musuh-musuh dakwah, tidak menyebut dakwah ini dengan sebutan Muhammadiyyah –terutama semenjak Muhammad, bukan ayahnya, ‘Abdul Wahhâb, memulai dakwah ini- karena dengan menyebutkan kata ini, Muhammad, mereka bisa mendapatkan simpati dan dukungan dakwah, ketimbang permusuhan dan penolakan.

Istilah “Wahhâbi”, dimaksudkan sebagai ejekan dan untuk meyakinkan kaum muslimin supaya tidak mengambil ilmu atau menerima dakwah Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb, yang telah digelari oleh mereka sebagai mubtadi’ (ahli bid’ah) yang tidak mencintai Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Walaupun demikian, penggunaan istilah ini telah menjadi sinonim dengan seruan (dakwah) untuk berpegang al-Qur`ân dan as-Sunnah dan suatu indikasi memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap salaf, yang berdakwah untuk mentauhîdkan Allôh semata serta memerintahkan untuk mentaati semua perintah Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini adalah kebalikan dari apa yang dikehendaki oleh musuh-musuh dakwah.9 Pada belakang hari, banyak musuh-musuh dakwah Imam Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb akhirnya menjadi kagum terhadap dakwah dan memahami esensi dakwahnya yang sebenarnya, melalui membaca buku-buku dan karya-karyanya. Mereka mempelajari bahwa dakwah ini adalah dakwah Islam yang murni dan terang, yang Alloh mengutus semua Nabi-Nya ‘alaihim`us Salâm untuknya (untuk dakwah tauhîd ini).

Menggunakan istilah ‘Wahhâbiyyah’ ini, tidak akan menghentikan penyebaran dakwah ini ke seluruh penjuru dunia. Bahkan pada kenyataannya, walaupun berada di tengah-tengah dunia barat, banyak kaum muslimin yang mempraktekkan Islam murni ini, yang mana Imâm Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb secara antusias mendakwahkannya dan menjadikannya sebagai misi dakwah beliau. Semua ini disebabkan karena tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan al-Qur`ân dan as-Sunnah, tidak peduli sekuat apapun seseorang itu.

Perlu dicatat pula, bahwa diantara karakteristik mereka yang berdakwah kepada tauhîd adalah, adanya penghormatan yang sangat besar terhadap al-Qur`ân dan sunnah Nabi. Mereka dikenal sebagai kaum yang mendakwahkan untuk berpegang kuat dengan hukum Islam, memurnikan (tashfiyah) dan mendidik (tarbiyah) bahwa peribadatan hanya milik Allôh semata serta memberikan respek terhadap para sahabat nabî dan para ‘ulamâ` Islâm. Mereka adalah kaum yang dikenal sebagai orang yang lebih berilmu di dalam masalah ilmu Islam secara mendetail daripada kebanyakan orang selain mereka. Telah menjadi suatu pengetahuan umum bahwa dimana saja ada seorang salafî bermukim, kelas-kelas yang mengajarkan ilmu sunnah tumbuh subur. Sekiranya istilah “Wahhâbî” ini digunakan untuk para pengikut dakwah, bahkan sekalipun dimaksudkan untuk mengecilkan hati ummat agar tidak mau menerima dakwah mereka, tetaplah salah baik dulu maupun sekarang, menyebut dakwah ini dengan sebutan “Wahhâbiyyah”.

Imâm Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb berdakwah menyeru kepada jalan Rasulullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabat nabi, beliau tidak berdakwah menyeru kaum muslimin supaya menjadi pengikutnya. Dakwah beliau bukanlah sebuah aliran/sekte baru, namun dakwah beliau adalah kesinambungan warisan dakwah yang dimulai dari generasi pertama Islam dan mereka yang mengikuti jalan mereka dengan lebih baik.

CATATAN KAKI :

* Dari Jalâl Abŭ Alrub dan Alâ Mencke (ed.), Biography and Mission of Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb (Orlando, Florida: Madinah Publisher, 1424/2003), hal. 677-81. Dengan tambahan ekstra catatan oleh Tim Salafimanhaj. Catatan dari Salafi Manhaj diberi tanda “Catatan Editor”.

Catatan Penterjemah : Artikel ini dialihbahasakan dari “Who First Used The Term “Wahhabi”? (http://www.salafimanhaj.com/pdf/SalafiManhaj_TermWahhabi.pdf)

** Catatan Penterjemah : Jalâl Abŭ Alrub adalah seorang penulis Islam salafî yang mumpuni. Beliau memiliki website bermanfaat, yaitu http://islamlife.com. Beliau aktif menulis counter dan tanggapan/bantahan terhadap syubuhat dan penyesatan opini para jurnalis Barat. Beliau pernah terlibat debat beberapa kali dengan para jurnalis dan penulis ’Neo-Con’. Terakhir kali, beliau menantang debat Robert Spencer (seorang Katolik pro Neo-Con, yang mengangkat dirinya sebagai ’Islam Specialist’ dan banyak menulis tentang Islam secara ngawur dan tendensius. Ia adalah orang dibalik website jihadwatch dan dhimmiwatch.) Namun, Robert Spencer sepertinya tidak punya ’guts’ (nyali), sehingga ia tidak pernah mau berhadapan langsung dengan Jalâl Abŭ Alrub.

1 Lihat : Dr. Muhammâd ibn Sa’d asy-Syuwai’ir, Tashhîh Khathâ’ Târîkhî Haula`l Wahhâbiyyah, Riyâdh : Dârul Habîb : 2000; hal. 55

2 Catatan Editor : W.W. Hunter dalam bukunya yang berjudul “The Indian Musalmans” mencatat bahwa selama pemberontakan orang India tahun 1867, Inggris paling menakuti kebangkitan muslim ‘Wahhâbi’ yang tengah bangkit menentang Inggris. Hunter menyatakan di dalam bukunya bahwa :

There is no fear to the British in India except from the Wahhabis, for they are causing disturbances againts them, and agitating the people under the name of jihaad to throw away the yoke of disobedience to the British and their authority.”

Tidak ada ketakutan bagi Inggris di India melainkan terhadap kaum Wahhâbi, karena merekalah yang menyebabkan kerusuhan dalam rangka menentang Inggris dan mengagitasi (membangkitkan semangat) umat dengan atas nama jihâd untuk memusnahkan penindasan akibat dari ketidaktundukan kepada Inggris dan kekuasaan mereka.”

Lihat: W.W. Hunter, “The Indian Musalmans”, cet.1 di London: Trűbner and Co., 1871; Calcuta: Comrade Publishers, 1945, 2nd edn.; New Delhi: Rupa & Co., 2002 Reprint

3 Catatan Ediotr : Di Bengal selama masa ini, banyak kaum muslimin termasuk tua, muda dan para wanita, semuanya disebut dengan “Wahhâbi” dan dianggap sebagai “pemberontak” yang melawan Inggris kemudian digantung pada tahun 1863-1864. Mereka yang dipenjarakan di Pulau Andaman dan disiksa adalah para ulama dari komunitas Salafî-Ahlul Hadîts, seperti Syaikh Ja’far Tsanisârî, Syaikh Yahyâ ‘Alî (1828-1868), Syaikh Ahmad ‘Abdullâh (1808-1881), Syaikh Nadzîr Husain ad-Dihlawî dan masih banyak lagi lainnya. Untuk bacaan lebih lanjut, silakan lihat :

v Mu’înud-dîn Ahmad Khân, A History if The Fara’idi Movement in Bengal (Karachi: Pakistan Historical Society, 1965).

v Barbara Daly Metrcalf, Islamic Revival in British India: Deoband, 1860-1900 (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1982), hal. 26-77.

v Qiyâmud-dîn Ahmad (Professor Sejarah di Universitas Patna), The Wahhabi Movement in India (Ner Delhi: Manohar, 1994, 2nd edition). Terutama pada bab tujuh “The British Campaigns Againts the Wahhabis on the North-Western Frontier” dan bab kedelapan “State Trials of Wahhabi Leaders, 183-65.”

Muhammad Ja’far, Târikhul ‘Ajîb dan Târikhul ‘Ajîb – History of Port Blair (Nawalkshore Press, 1892, 2nd edition).

4 Lihat: ibid, hal. 70

5 D.S. Margoliouth, Wahabiya, hal. 618, 108.

Catatan Editor : Artikel karya Margoliouth yang berjudul ‘Wahhabis’ ini juga dapat ditemukan di dalam The First Encyclopaedia of Islam, 1913-1936 (New York: E.J. Brill, 1987 Reprint) vol.8 , hal.1087 karya M.T. Houtsma, T.W. Arnold, R. Basset, R. Hartman, A.J. Wensinck, H.A.R. Gibb, W. Heffening dan E. Lêvi-Provençal (ed) dan The Shorter Encyclopaedia of Islam (Leiden and London: E.J. Brill and Luzac & Co., 1960), hal. 619 karya H.A.R Gibb, J.H. Kramers dan E. Lêvi-Provençal (ed). Artikel ini juga dicetak ulang dalam :

v Reading, UK: Ithaca Press, 1974

v Leiden: Brill, 1997

v Dan cetakan pertama, Leiden and London: E.J. Bril and Luzac & Co., dan New York: Cornel University Press, 1953.

6 Thomas Patrick Huges, Dictionary of Islam, hal. 59

7 George Rentz dan AS.J. Arberry, The Wahhabis in Religion in The Middle East: Three Religion in Concord and Conflict, Vol.2 (Cambridge: Cambridge University Press, 1969), hal. 270

8 Lihat: Nâshir ibn Ibrâhîm ibn ‘Abdullâh Tuwaim, Asy-Syaikh Muhammad ibn ‘Abd`ul Wahhâb: Hayâtuhu wa Da’watuhu fi`r Ru`yâ al-Istisyrâqiyya: Dirôsah Naqdîyyah (Riyadh: Kementerian Urusan Keislaman, Pusat Penelitian dan Studi Islam, 1423/2003) hal. 86-7.

Catatan Editor : Buku ini juga dapat dilihat secara online di http://islamport.com/d/3/amm/1/100/2213.html

9 Lihat: Qodhî Ahmad ibn Hajar Alu Abŭthâmi (al-Bŭthâmi), Syaikh Muhammad Ibn ‘Abdul Wahhâb : His Salafî Creed and Reformist Movement, hal. 66


Sumber: Maktabah Risalah Abu Salma edisi CHM, http://dear.to/abusalma

Khamis, 27 November 2008

MENJAWAB BUKU AHL SUNNAH AL-ASYA'IRAH



Sebuah lagi buku menjawab syubhat-syubhat buku "Ahl al-Sunnah Al-Asya'irah" selain buku "Al-Asya'irah fi al-mizan." Segala kedustaan tuduhan terhadap ahli sunnah daripada pihak al-Asya'irah dijawab dengan baik oleh ulama-ulama ahl sunnah yang benar-benar tulus ikhlas dalam dakwah mereka. Semoga buku dapat menjelaskan kekeliruan mereka.

Rabu, 26 November 2008

077 - Mempercayai Allah Di atas ‘Arsy: “Benarkah Mereka Ada Penyakit Hati?”

Mempercayai Allah Di Atas ‘Arsy: “Benarkah Mereka Ada Penyakit Hati?”

Oleh: Nawawi Subandi.
http://bahaya-syirik.blogspot.com/

Keratan akhbar yang dipaparkan kepada anda di bawah adalah dipetik dari:

Akhbar “Mingguan Malaysia” bertarik 9 November 2008, Agama, m/s. 10 (ruangan “Kemusykilan Anda Dijawab”), Mohd. Yusof Abas.

Penulis menyatakan bahawa mereka yang ber-i’tiqad (mempercayai) Allah di atas ‘Arsy adalah mereka yang berpenyakit hati. Ini dijelaskan oleh penulis adalah sebagaimana dalam keratan akhbar di bawah:

Katanya:

“Apa yang ditimbulkan oleh kawan anda itu hanyalah kekeliruan yang sengaja dibawa oleh mereka yang berpenyakit hati.”... (selanjutnya beliau menjelaskan) “... Itulah sebenarnya tanda hati kawan anda yang berpenyakit tadi.”

Sebelumnya, beliau (Mohd. Yusof Abas) ditanya:

“Ada kawan saya cuba memperkenalkan akidah Ibnu Taimiah yang mengatakan Allah berada di atas ‘Arsy (sepertimana firman Allah di dalam Surah Thoha ayat 5). Bolehkah tuan jelaskan maksud sebenarnya ayat tersebut?”




Maka, di sini kami cuba menjelaskan beberapa kekeliruan yang telah ditimbulkan oleh beliau (Mohd. Yusuf Abas).

Berkenaan Ayat 7, Surah Ali Imran:

“Dialah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Di antara (isinya) ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah dasar-dasar kandungan al-Qur’an. Dan yang lain (ayat-ayat mutasyabihat). Adapun orang-orang yang hatinya (berpenyakit) cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat mutsyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Surah Ali Imran, 3: 7)

Syaikh Abdur Rahman b. Nashir as-Sa’di menjelaskan (Berkenaan Surah Ali Imran, 3: 7),

“Adapun orang-orang yang berilmu lagi mendalam ilmunya dan hati mereka penuh dengan keyakinan, mereka ini mengetahui bahawa al-Qur’an itu semuanya adalah dari sisi Allah. Semua yang ada di dalamya adalah haq, sama ada yang mutasyabih atau pun yang muhkam, dan bahawasanya yang haq itu tidak akan saling bertentangan dan saling berbeza. Dan kerana ilmu mereka bahawa ayat-ayat yang muhkam mengandungi makna yang tegas dan jelas, dan kepadanya mereka mengembalikan ayat-ayat mutasyabih yang sering menimbulkan kebingungan bagi orang-orang yang kurang ilmu dan pengetahuannya. Mereka mengembalikan ayat-ayat yang mutaysabih kepada ayat-ayat muhkam sehingga akhirnya mereka berkata “kami beriman dengan kepada ayat-ayat mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran daripadanya melainkan orang yang berakal”. Iaitu orang yang memiliki akal yang sihat. Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahawa sikap inilah yang menandakan orang-orang yang berakal, dan bahawa mengikuti (mempergunakan) ayat-ayat mutasyabih adalah sifat-sifat orang yang rosak pemikirannya, akalnya rendah, dan memiliki tujuan yang buruk.” (Rujuk Tafsir as-Sa’di di bawah perbahasan ayat 7 Surah Ali Imran)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

“Ayat-ayat muhkam adalah seperti ayat-ayat yang menasakh (ayat yang lain), atau ayat-ayat yang berkenaan dengan permasalahan halal dan haram, masalah hudud (hukuman atau sanksi), kewajiban-kewajiban, serta perkara-perkara yang diperintahkan dan harus diamalkan.

Manakala ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang dinasakh, didahulukan, diakhirkan, perumpamaan-perumpamaan, sumpah dan apa yang harus diimani tetapi bukan berupa amal perbuatan.

Muhammad bin Ishaq bin Yasar rahimahullah berkata: Firman Allah (maksudnya): “Di antara (isinya) ada ayat-ayat yang muhkamat”, iaitu di dalamnya berisi hujjah Allah, pedoman bagi para hamba, dan menolak bantahan yang batil. Ayat-ayat muhkam tidak mengalami perubahan yang menyimpang dari apa yang telah ditetapkan.

Seterusnya beliau menjelaskan: Adapun ayat-ayat mutasyabihat mengandungi perkara-perkara yang harus diyakini, yang ada kemungkinan padanya untuk dihuraikan, diubah, bahkan ditakwil. Allah menguji hamba-Nya dengan ayat-ayat tersebut sebagaimana Dia menguji mereka dalam masalah halal dan haram. Ayat-ayat tersebut tidak boleh dibawa kepada makna yang batil dan tidak boleh diselewengkan dari kebenaran.

Kerana itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya): “Adapun orang-orang yang dalam hatinya (berpenyakit) cenderung kepada penyimpangan (zaigh)”, iaitu kesesatan (dhalal). Dan mereka pun keluar dari kebenaran menuju kebatilan. Firman Allah (maksudnya): “Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat mutasyabihat”, ertinya mereka hanya mengambil ayat-ayat mutasyabihat yang boleh untuk mereka selewengkan dan mereka menggunakannya bagi tujuan yang buruk. Kerana lafaz ayat tersebut boleh mereka bawa kepada makna yang mereka mahu.

Tetapi, tiada ruang bagi mereka untuk menyelwengkan ayat-ayat muhkamat. Kerana ayat-ayat muhkam merupakan penghalang sekaligus hujjah yang mengalahkan mereka. Kerana itulah Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (maksudnya): “Untuk menimbulkan fitnah”. Iaitu untuk menyesatkan para pengikut mereka dengan seakan-akan mereka itu membawakan hujjah mereka berdasarkan dalil al-Qur’an. Padahal al-Qur’an adalah hujjah yang membatalkan bid’ah mereka, bukan mendukungnya.

Firman Allah (maksudnya): “Dan untuk mencari-cari takwilnya”, iaitu menyelewengkan maksud bersesuaian dengan apa yang mereka kehendaki. Dan seterusnya (maksudnya): “Tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir di bawah penafsiran ayat 7 surah Ali Imran)

Daripada penjelasan tersebut, jelaslah bahawa orang-orang yang berpenyakit hatinya adalah orang yang menyelewengkan ayat-ayat mutasyabihat, mereka mentakwilkannya keluar dari maksud yang dikehendaki oleh Allah yang di mana hanya Allah sahaja yang mengetahuinya iaitu mereka mentakwilkannya dengan cara mengubah kepada maksud-maksud yang lain (melarikan maknanya) atau seumpamanya daripada maksud zahirnya yang asal. Perkara ini adalah sebagaimana terdapat sebahagian pihak yang menggunakan ayat seperti Allah istiwa (bersemayam) di atas 'Arsy dengan diberi makna sebagai “Allah berkuasa” iaitu mereka menyelewengkan kalimat istiwa' kepada istawla' dan seumapamanya.

Berkenaan Allah di Atas ‘Arsy:

Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan berkenaan firman Allah (yang maksudnya), “...kemudian Dia beristawa di atas ‘Arsy.” (Surah al-A’raaf, 7: 54) dan juga surah Thoha (20: 5) sebagaimana yang ditanyakan oleh si penanya, begitu juga di dalam beberapa ayat yang lain iaitu Yunus, 10: 3, ar-Ra’d, 13: 2, al-Furqon, 25: 59, as-Sajdah, 32: 4, katanya:

“Di dalam menafsirkan ayat ini (al-A’raaf, 7: 54), manusia memiliki pelbagai pandangan yang sangat banyak dan tidak mungkin pada kesempatan ini kami menghuraikannya. Tetapi, pandangan yang kami ikuti berkenaan dengan permasalahan ini adalah pandangan Salaf as-Soleh, seperti Malik, al-Auza’i, ats-Tsauri, al-Laits bin Sa’ad, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, dan selainnya yang terdiri dari para imam kaum Muslimin sejak dahulu hingga kini. Mereka berpandangan supaya mengambil (memahami) ayat ini sebagaimana adanya tanpa menanyakan bagaimana (takyif), tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya (tasybih), serta tidak meniadakan sifat tersebut (ta’thil). Sementara itu, yang terlintas di dalam pemikiran kaum mutasyabbih adalah dinafikan dari-Nya kerana Dia tidak serupa dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Tidak ada sesuatu yang seperti Allah dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dalam perkara ini, pendapat orang-orang yang menganggap bahawa jika kita menetapkan sifat-sifat itu bagi Allah, bererti kita telah menyerupakan Allah adalah tidak benar. Malahan, yang benar adalah seperti yang diucapkan olrah para imam salaf, di antaranya Imam Nu’aim bin Hammad, syaikh (guru) al-Bukhari rahimahullah, ia berkata: “Barang siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, bererti ia kufur. Barang siapa yang mengingkari apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, bererti dia kafir. Tidak ada tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) pada semua sifat yang dengannya Allah dan rasul-Nya mensifati diri-Nya Subhanahu wa Ta’ala.”

Maka, orang yang menetapkan bagi Allah apa yang disebutkan oleh ayat-ayat yang sharih dan hadis-hadis yang sahih adalah bersesuaian dengan kebesaran Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat kekurangan, bererti ia telah menempuh jalan hidayah.” (Rujuk Tafsir Ibnu Katsir & Adhwa’ ul Bayan di bawah penafsiran ayat 54 surah al-A’raaf)

Daripada Muawiyah bin Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pergunungan Uhud dan Juwaiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya (peliharaannya). Dan aku adalah termasuk salah seorang anak Adam (keturunan adam) dari manusia kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka (memiliki rasa marah/tidak berpuas hati). Atas sebab itu (apabila kambingnya dimakan serigala) wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku pergi berjumpa Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku. Aku berkata: “Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya?” Jawab Rasulullah: “Bawalah wanita itu ke sini”. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. “Di mana Allah?” Dijawabnya: “Di langit”. Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah aku?” Dijawabnya: “Engkau Rasulullah”. Maka baginda bersabda: “Merdekakanlah wanita ini, kerana dia adalah seorang mukminah”.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 537. al-Bukhari, Juz al-Qira’ah, 70. asy-Syafi’i, ar-Risalah, 242. Malik, al-Muwaththa’, 2/77. Ahmad, al-Musnad, 5/447)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan berkenaan hadis ini:

“Dengan itu, Rasulullah memutuskan keimanan budak wanita (jariyah/hamba wanita) tersebut ketika ia mengakui bahawa Rabbnya di langit dan dia tahu tentang Rabbnya melalui sifat ‘uluw dan fauqiyah (di atas).” (al-Umm, asy-Syafi’i, 5/280. al-Manaqib, al-Baihaqi, 1/398)

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam iaitu ketika sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku perkenannya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku berikan, dan sesiapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 1145. Muslim, 758)

Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah berkata berkenaan hadis ini:

“Dalam hadis ini terdapat dalil bahawasanya Allah berada di atas langit, di atas ‘Arsy sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Hadis ini adalah salah satu hujjah Ahli Sunnah terhadap kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyah yang berpendapat bahawa Allah ada di mana-mana, bukan di atas ‘Arsy.” (at-Tamhid lima fi al-Muwaththa’ min al-Ma’ani wa al-Asanid, Ibnu ‘Abdil Barr, 3/338. Kitab at-Tauhid, Ibnu Khuzaimah, m/s. 126)

Fatwa Para Ulama Salaf (terdahulu):

1 – Imam al-Auza’i berkata: “Kami dan seluruh Tabi’in bersepakat menyatakan bahawa: “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya”. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, Asma’ wa Shifat, m/s. 408. adz-Dzhabi, al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim, m/s. 102)

2 – Imam ‘Abdullah Ibnul Mubarak berkata: “Kami mengetahui Rabb kami, Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy berpisah dari makhluk-Nya. Dan kami tidak mengatakan sebagaimana kaum Jahmiyah yang menyatakan bahawa Allah ada di sini (beliau menuding/menunjukkan ke bumi).” (Diriwayatkan oleh ash-Shabuni, Aqidah Salaf Ashabul Hadis, m/s. 28)

3 – Imam Qutaibah bin Sa’id berkata: “Inilah pendapat para imam Islam, Ahli Sunnah wal Jama’ah, bahawa kami mengetahui Rabb kami di atas langit-Nya yang ketujuh di atas ‘Arsy-Nya.” (Dar’u Ta’arudh Naql wal Aql, Ibnu Taimiyah, 6/260)

4 – Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi berkata: “Telah bersepakat kalimat kaum muslimin dan kafirin bahawa Allah di atas langit.” (Naqdhu Abi Sa’id ala Mirsi al-Jahmi al-Anid, 1/228)

5 – Imam Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata: “Ahli Islam telah bersepakat untuk menetapkan sifat bagi Allah bahawasanya Allah di atas ‘Arsy berpisah dari makhluk-Nya dan ilmu-Nya di setiap tempat. Barangsiapa yang menyatakan selain ini maka baginya laknat Allah.” (Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah, al-Lalika’i, 1/198)

6 – Ibnu ‘Abdil Barr berkata tentang hadis turunnya Allah ke langit dunia: “Dalam hadism ini terdapat dalil bahawa Allah di atas ‘Arsy, di atas langit-Nya sebagimana dikatakan oleh Jama’ah kaum muslimin.” (at-Tamhid lima fi al-Muwaththa’ min al-Ma’ani wa al-Asanid, Ibnu Abdil Barr, 7/129)

7 – Imam ash-Shabuni berkata: “Para ulama umat dan imam dari Salafush Soleh tidak berselisih pendspat bahawa allah di atas ‘Arsy-Nya dan ‘Arsy-Nya di atas langit-Nya.” (Dar’u Ta’arudh Naql wal Aql, Ibnu Taimiyah, 6/250. al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim, adz-Dzahabi, 246)

8 – Imam Ibnu Qudamah menyatakan: Sesungguhnya Allah mensifati diri-Nya bahawa Dia tinggi di atas langit, demikian juga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam (penutup para Nabi) mensifati Allah dengan ketinggian juga, dan perkara tersebut disepakati oleh seluruh ulama dari kalangan sahabat yang bertaqwa dan para imam yang mendalam ilmunya, hadis-hadis berkaitan dengannya juga mutawatir sehingga mencapai darjat yakin, demikian pula Allah menyatukan semua hati kaum muslimin dan menjadikannya sebagai fitrah semua makhluk.” (Itsbati Shifatul Uluw, Ibnu Qudamah, m/s. 12)

9 – Imam adz-Dzahabi menyatakan: “Mereka yang menjelaskan Allah di atas langit, hujjah-hujjah mereka adalah hadis-hadis dan atsar-atsar yang sangat banyak.” (al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim, 143)

10 – Imam asy-Syafi’i berkata: “Kekhalifahan Abu Bakar ash-ShiddiQ adalah haq (benar), yang telah diputuskan Allah Ta’ala dari atas langit-Nya, dan Dia telah menghimpun hati hamba-hamba-Nya kepada Abu Bakar ash-ShiddiQ.” (Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 5/139) “...bahawa tidak ada tuhan yang berhak disembah (ilah) melainkan Allah, dan Muhammad Rasulullah, dan bahawa Allah Subhanahu wa Ta’ala itu di atas ‘Arsy-Nya di langit-Nya yang dekat dengan makhluk-Nya bersesuaian dengan kehendak-Nya, dan bahawa Allah turun ke langit dunia bersesuaian dengan kehendak-Nya.” (Rujuk: Itsbati Shifatul Uluw, Ibnu Qudamah, 124. Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 4/181-183. al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim, adz-Dzahabi, 120. Mukhtashar al-‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim, al-Albani, 176)

11 – Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Kita beriman kepada Allah bahawa Dia di atas ‘Arsy bersesuaian dengan kehendak-Nya tanpa dibatasi dan tanpa disifati dengan sifat yang kepadanya seseorang cuba mensifatinya (dengan mentakwil-takwil). Sifat-sifat Allah itu (datang) dari-Nya dan milik-Nya. Ia mempunyai sifat seperti yang Dia sifatkan untuk diri-Nya, yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan (pancaindera).” (Dar’u Ta’arudh Naql wal Aql, Ibnu Taimiyah, 2/30. I’tiqadatul Aimmatil Arba’ah, Dr. Muhammad al-Khumais, 69 & 71. Lihat juga: Thabaqat al-Hanabilah, Abu Ya’la, 1/56)

12 – Imam Abu Hanifah berkata: “Sesiapa yang berkata, “Aku tidak tahu Rabbku di langit atau di bumi” bererti dia kafir. Begitu juga seseorang menjadi kafir apabila mengatakan bahawa Allah itu di atas ‘Arsy, namun dia tidak mengetahui sama ada ‘Arsy itu di langit atau di bumi.” (al-Fiqhul Absath, Abu Hanifah, 46. I’tiqadatul Aimmatil Arba’ah, Dr. Muhammad al-Khumais, 11)

13 - Sebagaimana di dalam soalan si penanya, beliau menyatakan Ibnu Taimiyyah berpegang dengan Akidah tersebut (Allah di Atas ‘Arsy). Maka dalam persoalan ini, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan:

“Pendapat bahawa Allah di atas ‘Arsy adalah pendapat yang disepakati oleh para Nabi seluruhnya, dan ianya disebutkan dalam setiap Kitab yang diturunkan kepada setiap nabi yang diutus sebagai Rasul. Persoalan itu telah disepakati pula oleh generasi pendahulu dari umat ini serta dari kalangan imam mereka dari semua golongan.” (Naqdhu at-Ta’sis, Ibnu Taimiyyah, 2/9)

“Permasalahan ini begitu luas, kerana orang-orang yang menukil ijma’ ahli Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) Sahabat dan Tabi’in bahawa Allah di atas ‘Arsy, berpisah dari makhluk-Nya tidak dapat dihitung/dikira jumlah ramainya melainkan hanya Allah saja yang tahu...” (Bayanu Talbis Jahmiyah, Ibnu Taimiyah, 3/531)

Maka, dengan ini semoga si penjawab (Mohd. Yusof Abas) yang sudah berulang kali membawakan jawaban yang merancukan berkenaan persoalan yang sama, supaya menilai kembali penjelasannya yang tersebut (sebagaimana yang kami nukilkan). Semoga dengan penjelasan ringkas ini kita tidak bermudah-mudah menggelarkan orang lain sebagai berpenyakit hatinya, ditakuti ia terkena diri sendiri.

Ad-Daruquthni mentakhrijkan dari Walid bin Muslim, dia berkata:

Aku pernah berkata kepada Malik, ats-Tsauri, al-‘Auza’i, dan Laith bin Sa’ad berkenaan nash-nash sifat Allah. Mereka menjawab, “Fahamilah sebagaimana adanya bersesuaian dengan apa yang didatangkan (tanpa ditakwilkan)” (ash-Shifat, ad-Daruquthni, 75. asy-Syari’ah, al-Ajuri, 314. al-I’tiqad, al-Baihaqi, 118. at-Tamhid lima fi al-Muwaththa’ min al-Ma’ani wa al-Asanid, Ibnu Abdil Barr, 7/149)

Wallahu a’lam.

Sumber: http://bahaya-syirik.blogspot.com/2008/11/077-mempercayai-allah-di-atas-arsy.html

Sabtu, 22 November 2008

KAEDAH DALIL-DALIL AL-ASMA’ WA AL-SIFAT [I]

Dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah s.w.t , Ahli Sunnah wal Jamaah (ASWJ) mempunyai beberapa kaedah yang telah ditetapkan oleh para ulama salaf semenjak zaman Rasulullah s.a.w lagi. Kaedah ini perlu difahami dengan baik supaya dalam menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah s.w.t kita menggunakan dalil yang betul serta memahami dalil tersebut dengan betul juga. Berikut adalah kaedah-kaedahnya:


1- Nama-nama dan Sifat-sifat Allah s.w.t Hanya Sabit Melalui al-Qur’an dan al-Sunnah yang Sahih Sahaja.


Berdasarkan kaedah ini, akal manusia tidak berperanan untuk menetap atau menafikan apa-apa sifat kepada Allah s.w.t kerana memikirkan bagaimana Allah s.w.t itu bukanlah peranan akal.


Apa-apa lafaz sifat dan nama yang Allah tetapkan bagi diri-Nya maka wajib kita terima dan beriman sesuai dengan lafaz dan maknanya seperti mendengar, melihat, ar-Rahman, ar-Rahim, mata, tangan, dan sebagainya demikian juga apa-apa yang Allah nafikan wajib kita nafikan seperti beranak, diperanakkan, cacat dan lain-lainnya.


Adapun, jika sifat atau nama itu tidak sabit dalam al-Qur’an atau Hadis yang sahih maka kita bertawaqquf (mendiamkan diri) pada lafaznya dengan tidak menafikan dan tidak pula menetapkannya kepada Allah s.w.t.


Adapun dari segi makna maka dilihat apakah yang hendak dimaksudkan dengan kalimah (lafaz) tersebut. Misalnya kalimah Jisim, Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menggunakan kalimah Jisim sama ada menetap atau menafikan maka kita tidak menceburkan diri dalam membincangkan perkara ini. Dilihat pula apakah maksud Jisim itu. Jika yang dikehendaki dengan jisim adalah zat maka kita katakan Allah mempunyai zat jadi dalam konsep ini tidaklah kufur orang yang mengatakan allah berjisim dengan makna zat tetapi penggunaan kalimah jisim itu perlu dijauhi kerana tidak digunakan Allah dan Rasul-Nya. Adapun jika maksud jisim itu Allah menyamai makhluk maka dalam konteks ini perkataan Allah berjisim dengan makna sama dengan makhluk adalah kufur.


Demikian juga penggunaan kalimah المكان iaitu ‘tempat’ bagi Allah s.w.t. Kita tidak boleh berkata Allah bertempat dan tidak juga Allah tidak bertempat kerana tidak sabit perbincangan ini dalam al-Qur’an dan Hadis Sahih. Dilihat pula maksud kepada mereka yang mengatakan Allah bertempat, jika yang dikehendaki dengan tempat adalah Arasy maka ianya benar tetapi penggunaan kalimah ‘tempat’ tidak sesuai namun jika dikehendaki Allah terhad dan tertentu (terkurung) dalam suatu tempat maka ianya jelas kufur.


Dalil kaedah ini firman Allah s.w.t :


فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ


Maksudnya: “oleh itu, berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi Yang Ummi Yang beriman kepada Allah dan Kalimah-kalimahNya (Kitab-kitabNya); dan ikutilah Dia, supaya kamu beroleh hidayah petunjuk”. [al-A'raf : 158].

Dan sabda Nabi s.a.w:


إنَّ الله فَرَضَ فرائِضَ ، فَلا تُضَيِّعُوها ، وحَدَّ حُدُوداً فلا تَعْتَدوها ، وحَرَّمَ أَشْياءَ ، فلا تَنتهكوها ، وسَكَتَ عنْ أشياءَ رَحْمةً لكُم غَيْرَ نِسيانٍ ، فلا تَبحَثوا عَنْها


Maksudnya: Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu beberapa kewajipan maka janganlah disia-siakan danDia menetapkan batasan maka jangan kamu lampauinyadan Dia mengharamkan beberapa perkara maka jangan kamu langgarnya dan Dia ‘mendiamkan’ tentang beberapa perkara sebagai Rahmat bagi kamu bukan kerana lupa maka jangan kamu mencari-cari ia[al-Daruqutni dll].


2- Wajib Menetapkan Nas-nas Sifat Sesuai dengan Makna yang Zahir daripada Lafaznya Tanpa Tahrif (pengubahan).


Berkata Imam al-Zuhri r.h:


“من الله تعالى الرسالة وعلى الرسول صلى الله عليه وسلم البلاغ وعلينا التسليم، أمروا أحاديث رسول الله كما جاءت”


Maksudnya: “Daripada Allah Taala datangnya Risalah (agama), dan atas Rasulullah s.a.w (kewajipan) menyampaikan dan atas kita (kewajipan) menerima; Jalankanlah (berimanlah) kepada hadis-hadis Rasulullah sebagaimana ia datang” [Aqwal al-Tabiin fi al-Tauhid wal Iman, 809].


Berkata Imam al-Khattabi r.h:


مذهب السلف في الصفات إثباتها وإجراؤها على ظاهرها ونفي الكيفية والتشبيه عنها


Maksudnya: “Mazhab al-Salaf (ASWJ) dalam sifat-sifat (allah) adalah menetapkannya dan beriman sesuai dengan zahirnya dan menafikan kaifiat dan penyerupaan (dengan makhluk)”- [Mukhtasar al-Uluww,31]


Berkata pula Imam Ibn abdil Barr r.h:


أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة في الكتاب والسنة وحملها على الحقيقة لا على المجاز إلا أنهم لم يكيفوا شيئا من ذلك


Maksudnya: “Ahli Sunnah telah ijmak berikrar (beriman) dengan sifat-sifat (Allah) yang warid (sabit) dalam al-Qur’an dan al-Sunnah dan membawa (maknanya) dengan makna hakiki bukan majazi (kiasan) tetapi mereka tidak memberikan kaifiat (bagaimana) terhadap sifat-sifat tersebut”- [Mukhtasar al-Uluww,32]


Berdasarkan kaedah ini, semua lafaz sifat dalam al-Qur’an dan Hadis Sahih mesti difahami dengan makna yang zahir daripada bahasa Arab yang asli yang wujud pada zaman Rasulullah s.a.w dan para Sahabat.


Maka, apabila Allah berfirman:


الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى


Maksudnya: “Dialah al-Rahman yang bersemayam di atas Arasy (Takhta Kebesaran Allah s.w.t)”- [Taha:5]


Kalimah استوى dalam ayat itu perlu difahami dengan bahasa arab yang zahir iaitu العلو (Meninggi) dan الارتفاع (Teratas) kerana di ta’addi dengan huruf jarr على. [Rujuk al-Mukjam al-Wasit, 466].


Demikian juga sifat السمع (Mendengar) maka dalam bahasa arab maksud mendengar adalah إدراك المسموعات والأصوات” (Mendapat dengar perkara yang boleh didengari dan suara) bukan diterjemah sebagai “Mengetahui perkara-perkara yang boleh didengari” sebagaiman takwilan Asyairah kerana ini bertentangan dengan bahasa asli.


Dalil Kaedah ini sabit melalui Naqli dan Akli. Dalil Naqli adalah firman Allah s.w.t:


إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ


Maksudnya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab itu sebagai Quran Yang dibaca Dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal untuk) memahaminya”. [Yusuf:2]


Dan firman Allah s.w.t:


مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا


Maksudnya: ” di antara orang-orang Yahudi ada Yang mengubah (atau menukar ganti) Kalamullah (isi Kitab Taurat), dari tempat dan maksudnya Yang sebenar, dan berkata (kepada Nabi Muhammad): “Kami dengar”, (sedang mereka berkata Dalam hati): “Kami tidak akan menurut…” [al-Nisaa:46].


Dalam dalil yang pertama menunjukkan wajibnya memahami dalil sesuai dengan bahasa Arab dan dalam dalil kedua menjadi bukti laranagn mengubah makna nas daripada zahirnya kecuali dengan dalil yang kukuh pula.


Adapun dalil akli adalah Penutur nas ini sama ada al-Qur’an yang ditutrkan oleh Allah atau Hadis Nabawi yang penuturnya adalah Rasulullah s.a.w lebih mengetahui maksudnya dan mereka bertutur dengan bahasa Arab yang jelas maka perlulah difahami sesuai dengan kehendak penuturnya.


Adalah mustahil kita hendak memahami bahasa Arab melalui bahasa Yunani Greek sebagaimana yang dibuat oleh Ahli Kalam sama ada Muktazilah mahupun Asyairah.


3- Zahir Nas-nas Sifat adalah Maklum kepada Kita dari segi Makna dan Majhul dari segi Kaifiat.


Asal kaedah ini adalah ucapan para salaf dan yang masyhur adalah ucapan Imam Malik bin Anas r.h:


الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة


Maksudnya: “Istiwa’ itu bukanlah majhul (yakni diketahui maknanya bukanlah tidak diketahui) dan caranya itu tidak diketahui oleh akal dan beriman dengannya wajib dan bertanya berkenaan (caranya) adalah bidaah” [Tafsir al-Baghawi,3/236].


Kaedah ini menjadi pembeza di antara ahli Sunnah wal Jamaah dengan al-Asyairah al-Mufawwidah (الأشاعرة المفوضة) kerana mereka ini berkata sifat Allah (sifat Khabariah) itu Majhul Makna dan Kaif.


Maka, atas kaedah ini, apabila ditanya kepada mereka apakah makna Istiwa’? maka jawabnya: “Hanya Allah sahaja yang tahu”. Adapun jika Ahli Sunnah ditanya apakah makna Istiwa maka jawabnya : “Istiwa’ itu adalah meninggi dan tertatas tetapi bagaimana caranya Allah meninggi dan teratas di atas Arasy hanya Dia jua yang Maha Mengetahui”.


Dalil Kaedah ini sabit dengan Naqli dan Akli. Dalil Naqli adalah firman Allah s.w.t:


كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ


Maksudnya: “(Al-Quran ini) sebuah Kitab Yang Kami turunkan kepadamu (dan umatmu Wahai Muhammad), -Kitab Yang banyak faedah-faedah dan manfaatnya, untuk mereka memahami Dengan teliti kandungan ayat-ayatNya, dan untuk orang-orang Yang berakal sempurna beringat mengambil iktibar.” [Sod:29]


Maka, hikmah allah menurunkan al-Quran adalah untuk diteliti maknanya, jika maknanya majhul ternafilah hikmah ini. Ayat ini merupakan tamparan Allah s.w.t kepada al-Asyairah al-Mufawwidah.


Firman Allah s.w.t dalam surah al-Nahl ayat 44:


وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ


Maksudnya: “dan Kami pula turunkan kepadamu (Wahai Muhammad) Al-Quran Yang memberi peringatan, supaya Engkau menerangkan kepada umat manusia akan apa Yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkannya.”


Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahawa Rasulullah s.a.w diperintah supaya menjelaskan al-Qur’an maka amat mustahil baginda menjelaskan al-Qur’an tanpa menjelaskan makna. Demikian juga hikmah al-Qur’an itu diturunkan supaya manusia berfirkir maka bagaimana mereka hendak berfikir jika maknanya majhul?!subhananllah.


Adapun dalil akli, adalah mustahil Allah s.w.t menurunkan kitab-Nya yang merupakan kalam-Nya dan Rasul-Nya bertutur menjelaskan kitab-Nya dan kedua-dua kalam ini merupakan hidayah (petunjuk bagi manusia) serta menjelaskan kepada mereka perkara-perkara paling mustahak untuk diketahui tetapi maknanya majhul seperti huruf-huruf hijai (abjad arab) kerana ini menisbahkan kebodohan dan kejahilan kepada Allah dan Rasul-Nya.Maha Suci Allah daripada kekejian lidah Asyairah!!


4- Maksud Zahir Nas-nas itu adalah Apa yang Segera ditangkap Oleh Akal (Zihin) dan Ia Berbeza-beza dengan Berbezanya Siaq Ayat (Gaya Bahasa Sesuatu Ayat).


Kaedah keempat ini sangat penting untuk menjelaskan syubhat ahli bidaah terhadap beberapa tafsiran salaf terhadap ayat-ayat yang disangka ayat sifat.


Perlu difahami bahawa kalimah dalam bahasa arab itu membawa maksud yang berbeza apabila dihubungkan dengan kalimah yang berbeza atau disusun dalam gaya bahasa yang berbeza.


Ambil contoh yang mudah kalimah رغب apabila dihubung dengan huruf jar في yakni (رغب في…) ia membawa makna ’suka kepada…’ tetapi apabila dihubung kepada huruf عن (رغب عن…) ia membawa maksud ‘benci akan..’.


Terdapat 3 perkara yang mempengaruhi makna sesuatu kalimah:


1-al-Siaq (السياق) yakni Gaya Bahasa

2-al-Idhafah (الإضافـــة) yakni penisbatan

3-at-Tarakib(التراكيب) yakni susunan ayat.


Contoh pengaruh al-Siaq seperti kalimah القريــــــــــة kadangkala membawa maksud kaum dan kadangkala bermaksud tempat tinggal sesuatu kaum

.

Dalam firman Allah s.w.t:


وَإِنْ مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا نَحْنُ مُهْلِكُوهَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَوْ مُعَذِّبُوهَا عَذَابًا شَدِيدًا


Maksudnya: ” dan tiada sesebuah negeri pun melainkan Kami akan membinasakannya sebelum hari kiamat, atau Kami menyeksa penduduknya Dengan azab seksa Yang berat; “. [al-Israa: 58].


Maksud qaryah adalah suatu kaum dan dalam firman yang lain:


إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ


Maksudnya: “Sebenarnya Kami hendak membinasakan penduduk bandar ini…” [al-Ankabut:31]


Qaryah dalam ayat ini bermaksud tempat tinggal suatu kaum.


Misal Idhafah pula seperti kita berkata:


قبضت الكتاب بيدي


Maksudnya: “Saya memegang buku dengan tangan saya”


Kalimah اليد (tangan) di sini bermaksud tangan makhluk yang merupakan anggota tubuhnya kerana diidafahkan pada makhluk. Kemudian dalam al-Qur’an digunakan kalimah al-Yad dan diidafah kepada Allah s.w.t:


لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيّ

َ


Maksudnya: “..kepada apa yang Aku (Allah) cipta dengan dua tangan-Ku”


Maka apabila kita mendengar kalam yang pertama sebaik mendengar kalimah ‘tangan’ kita akan terbayang tangan mempunyai lima jari, ruas-ruas jari, kuku dan tapak tangan kerana zahir daripada idafah tangan kepada makhluk. Tetapi bila kita mendengar firman Allah s.w.t maka tersegera dalam akal kita sebaik mendengar kalimah ‘tangan’ suatu sifat Tuhan yang tidak tergambar bagaimana rupanya.


Misal Tarkib pula seperti kita berkata:


ما عندك إلا زيد


Maksudnya: “Tidak ada di sisi kamu kecuali Zaid”


Dan kata kita:


ما زيد إلا عندك


Maksudnya: “Tidaklah Zaid itu kecuali bersama kamu”


Dalam contoh pertama tarkib yang digunaan adalah قصر الصفة على الموصوف yang membawa maksud di sisi kamu hanya ada Zaid seorang sahaja. Adapun dalam tarkib kedua kita terbalikkan قصر الموصوف على الصفة bermakna Zaid hanya berada dengan kamu tetapi tidak bermakna tiada orang lain bersama kamu.


Ini merupakan keajaiban bahasa Arab oleh sebab itulah Allah s.w.t memilih untuk bertutur menggunakan bahasa Arab dalam al-Qur’an.


Oleh itu, perlu difahami bahawa yang dimaksudkan ‘Makna Zahir yang segera tergambar di fikiran’ adalah apa yang tergambar sesuai dengan siaq ayat atau idafahnya atau tarkibnya.


Kesimpulannya, setiap makna kalimah itu perlu dirujuk kepada qarinah-qarinah yang menunjuk kepada sesuatu makna.


Oleh: Ustaz Abu Rubayyi' Muhammad Asrie As-Salafiy

Sumber: http://mashoori.wordpress.com/2008/11/22/kaedah-dalil-dalil-al-asma-wa-al-sifat-i/

Selasa, 18 November 2008

PUJIAN TERHADAP SAYYID MUHAMMAD RASYID REDHA DALAM MENYEBARKAN DAKWAH SALAFIYYAH

Terdapat segelintir kaum muslimin pada hari ini telah menuduh bahawa Syaikh Rasyid Redha seorang Aqlani-Mu'tazili dan tidak kurang juga sebahagian kaum muslimin yang mendakwa bahawa Syaikh Rasyid Redha seorang yang sangat menentang salafiyyah. Apakah dakwaan ini benar atau dusta?

Firman Allah S.W.T:

"Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong" (al-Qomar : 26)


"Tidak diragukan lagi bahawa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahsiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong."
(an-Nahl : 23)


"(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang." (al-Mu'min : 35)


"Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina" (al-A'raf : 166)

Maka di sini dibawakan kesaksian daripada beberapa Ulama' terhadap Sayyid Rasyid Redha dalam menjawab tuduhan-tuduhan yang dilemparkan. Semoga dapat diambil pelajaran dan menjaga lisan-lisan kaum jufat dari kedengkian dan kejahatan jiwanya.


1. Kitab Hayatul Albani (Perikehidupan Albani, pengaruhnya dan pujian ulama terhadapnya) oleh Muhammad Ibrahim asy-Syaibani hal. 400-401.


Berkata al-Imam al-Albany -Rahimahullah- : "Sayyid Muhammad Rasyid Redha rahimahullah mempunyai jasa yang besar terhadap dunia Islam secara umum dan khususnya kepada salafiyun. Semuanya ini kembali kepada eksistensinya sebagai seorang da'i yang mana langkahnya yang telah menyebarkan Manhaj Salaf di seluruh penjuru dunia melalui majalahnya al-Manar. Dan sungguh beliau telah berjuang di dalam menjalankan tugas ini dengan perjuangan yang sepatutnya dan selayaknya disyukuri dan semoga balasan pahala baginya yang telah tertimbun di sisi Rabb-nya. Selain sebagai seorang da'i yang mengajak kepada ittiba' Manhaj Salaf baik Aqidah, Fikrah maupun Akhlaq, beliaupun memiliki perhatian yang patut disyukuri terhadap hadits-hadits sahih dan dha'if. Hal ini merupakan suatu yang tidak tertutup/tersembunyi bagi seorang muslim yang memiliki sedikit pengetahuan tentang Islam, bahawasanya hadis-hadis Rasulullah Shallallahu 'alahihi wa sallam adalah satu pengetahuan tentang Islam, bahawasanya hadits-hadist Rasulullah Shallallahu 'alahihi wa sallam adalah satu-satunya jalan untuk memahami kitabullah dengan pemahaman yang benar. Banyak ayat-ayat al-Qur'an yang tidak mungkin dapat difahami kecuali dengan penjelasan dari Sunnah Nabawiyah."


Kemudian beliau berkata, "Sayyid Muhammad Rasyid Redha Rahimahullah memiliki perhatian yang besar terhadap Ilmu Hadis, hal ini dilakukan sebatas kemampuan beliau secara ilmiah, sosial dan politik. Maka dengan banyaknya sanad-sanad hadis lemah yang diingatkan oleh beliau melalui majalahnya al-Manar yang merupakan benih yang baik, menjadikan kaum Muslimin mengarahkan perhatian mereka kepada hadis-hadis Rasulullah. Dan manakala pengakuan suatu keutamaan/jasa oleh ahlul fadhl (ahli yang utama) terhadap mereka yang memiliki jasa/keutamaan merupakan suatu haq (kebenaran), maka pada kesempatan yang baik ini saya pun menulis kalimah ini agar dapat dibaca dan diketahui oleh siapa saja yang sampai kepadanya tulisan ini bahwasanya -berkat kurnia Allah- aku (Albani), beserta apa yang aku berada di dalamnya mulai dari berittijah (menuju) kepada pemahaman salafiyyah hingga memisahkan hadis-hadis sahih dan dha'if, semuanya itu jasa dan keutamaannya yang pertama, kembali kepada Sayyid Muhammad Rasyid Redha rahimahullah melalui beberapa edisinya majalah al-Manar yang aku mengenalnya pada awal aku mulai kegiatanku di dalam menuntut ilmu."


2. Kitab "Dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan pengaruhnya terhadap gerakan Islam moden" karya Syaikh Sholahudin Maqbul Ahmad, yang dibaca kembali oleh Syaikh Rabi' bin Hadi al-Madkhaly hal. 59-63, sebagai berikut :


"Majalah al-Manar dan Peranannya di dalam Menyebarkan Pemahaman Salafiyyah"

Sayyid Muhammad Rasyid Redha rahimahullah, pendiri majalah al-Manar tahun 1315H belajar tentang kebebasan berpendapat dan berfikir dari al-Afghani dan Muhammad Abduh, hal ini mendorong beliau untuk mempelajari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah serta tokoh-tokoh pendukung mereka seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sementara waktu itu, membaca buku-buku tersebut dilarang di lingkungan beliau. Kebetulan sekali tulisan-tulisan mereka sesuai dengan keinginan beliau yang luhur untuk mengajak ummat agar kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alahihi wa sallam. Maka mulalah beliau mengarah kepada pemahaman salaf di dalam beraqidah dan beramal, dan membebaskan diri beliau dari penyimpangan-penyimpangan Syaikhnya Muhammad Abduh.


Beliau (Syaikh Rasyid Redha) berkata, "Bahwasanya setelah aku bebas berbuat sepeninggal beliau (Muhammad Abduh), akupun menyelisihi manhajnya (rahimahullah) dengan memperluas dari hadis-hadis sahih apa-apa yang ada kaitannya dengan suatu ayat baik dalam penafsirannya atau pengambilan hukum darinya." (Tafsir al-Manar I/16 Muqoddimah).


Al-Allamah Muhammad Kurdi Ali berkata : "beliau (Rasyid Redha) mendirikan majalah al-Manar dan menjadikan temanya yang pertama 'reformasi islam', beliau meninggalkan sufisme dan kembali ke manhaj salaf, dalam memainkan peranan ini, beliau termasuk orang yang banyak mengambil ilmu dari kitab-kitab salaf dan menukil dari mereka serta berjalan di atas petunjuk melalui pendapat-pendapat mereka seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qoyim al-Jauziyah, maka tersebarlah majalah al-Manar di seantero dunia Islam, diantara mereka ada yang pro dan kontra dan yang paling banyak kontranya adalah para syaikh dari al-Azhar. Sebagaimana beliaupun menulis dalam masalah politik. Dan kerana terdorong oleh keikhlasan dan ghairah terhadap kemaslahatan jama'ah kaum muslimin, beliau dengan terang-terangan mengingkari dengan keras para ulama' amatiran dan para mubtadi'."


3. Syaikh Ahmad bin Hajar al-Buthami dalam kitabnya "Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab" berkata :


"Benar-benar dakwah yang diberkahi ini (da'wah tauhid yang dibawa oleh Syaikh Muhammad Abdul Wahhab) telah tersebar di Hadramaut dan Jawa dengan perantara Syaikh Rasyid Ridha dan didirikannya Jum'iyyah Al-Irsyad di sana yang mengajak kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, memberantas bid'ah dan khurafat, selaras dengan minda "Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab."


4. Dr. Abdurrahman al-Furyawa'i berkata : "Dengan menelaah tulisan-tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan hubungannya dengan ulama salafiyyah di Nejad, Hijjaz dan India, telah memperngaruhi keperibadiannya dan mendorong semangat beliau untuk berdakwah kepada pemahaman salaf. Membela da'wah salafiyah dan para imam-imamnya serta memberantas I'tiqod bid'ah, syirk dan tasawwuf. Sebagaimana hal ini ketara dengan jelas melalui tulisan-tulisan beliau dalam mendukung gerakan Wahabiyah, membela negeri tauhid (Saudi Arabia) dan penguasanya Raja Abdul Aziz Alu Su'ud serta menyebarkan kitab "Menjaga manusia dari godaan Syaikh Dahlan" yang ditulis oleh al-Allamah Muhamamd basyir as-Sahwani yang diberi kata pengantar dan ta'liq oleh beliau.


5. Dr. Muhammad bin Abdullah Alu Salman berkata : "Kemudian muncul Sayyid Muhammad Rasyid Redha tahun 1345H. yang hijrah dari Syam ke Mesir pada tahun 1315H, beliau dianggap sebagai sebuah keperibadian salafi, beliau adalah salah satu murid al-Afghani dan Muhammad Abduh. Dan adalah benar beliau sebagai penopang dan da'i terbesar bagi gerakan salafiyyah di Mesir khususnya dan di negeri-negeri Arab pada umumnya. Beliau telah menyusun banyak kitab sebagai penunjang da'wah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, mendirikan majalah al-Manar di Mesir pada tahun 1315H yang terus terbit sampai wafatnya tahun 1354/1935M. Demikan pula percetakan al-Manar di Mesir telah banyak mencetak tulisan-tulisan ualam penyebar da'wah salafiyyah dari Nejad. Sayyid Muhammad Rasyid Redha dengan kegiatan salafinya telah mencapai hasil yang besar di Mesir dan dunia Islam lainnya, sehingga munculnya banyak pengikut yang menopang da'wah salafiyyah bertebaran dengan munculnya organisasi-organisasi yang berwala' dan mengikuti da'wah salafiyyah seperti Jum'iyyah Ansharus Sunnah di Kairo Mesir, tahun 1345H yang didirikan oleh al-Allamah Syaikh Muhamad Hamid al-Faqihi, seorang murid syaikh Muhammad Rasyid Ridha."


6. Syaikh Muhammad al-Maghrawi berkata, "Syaikh Muhammad Rasyid Redha benar-benar telah menampakkan Madzhab salaf yang baik, terlihat dari apa-apa yang beliau kumpulkan dalam tafsirnya al-Manar, beliau menetapkan mazhab salafus soleh di dalam kebanyakan ayat sifat dan membelanya. Walaupun terkadang beliau terjerumus ke dalam ta'wil dalam beberapa ayat, namun beliau tetap dianggap sebagai orang yang lebih banyak mendapatkan shibghoh (celupan) salafiyah. Pujian beliau terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Muhammad Abdul Wahhab dan pengikut manhaj mereka berdua di dalam dakwah dan aqidah seperti Jamaludin al-Qoshimi, semuanya itu menunjukkan kekaguman beliau terhadap madzhab salaf,"


7. Dari Kitab 'Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab as-Salafiyah wa atsaruha fil 'alamil Islami' (Aqidah Syaikh Muhammad Abdul Wahhab salafiyah dan dampaknya bagi dunia Islam) oleh Syaikh Sholih bin Abdullah al'Abud, hal. 683


"..Sehingga Allah Ta'ala memberikan kesempatan untuk kembali kepada Aqidah Salafus Soleh melalui raja Abdul Aziz bin Abdirrahman al-Faishol. Pada saat itu, kami mendapatkan percetakan al-Manar di Mesir serta pemiliknya Sayyid Muhammad Rasyid Redha, menerima kebaikan dan mempunyai hubungan kerjasama dengan raja Abdul Aziz di dalam menyebarkluaskan tulisan-tulisan dan atsar-atsar ulama da'wah yang dipimpin oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Sebagai contoh adalah kitab Majmu'ah Rasa`il dan Masa`il an-Najdiyyah (4 jilid besar) dan kitab-kitab para salafus soleh di bidang fiqh, tafsir dan hadis yang mencapai jumlah besar, dimana beliau (Imam Muhammad bin Abdul Wahhab) mempunyai pengaruh sangat besar dalam menyatukan kaum muslimin dan menyebarkan al-Haq yang telah hilang melaui tulisan-tulisan salafiyyah tersebut. Sementara Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkhidmah dengan memberi komentar (ta'liq) dan mengawasi percetakan/penerbitannya. Beliau juga memiliki sifat-sifat terpuji, tulisan-tulisan yang adil dan penjelasan-penjelasan tentang kebenaran al-Haq dalam majalahnya yang besar al-Manar, yang terbit selama bertahun tahun, dan beliau menyebarkan semua itu sebagai suatu pembelaan yang mulia terhadap da'wah salafus soleh, dan tidaklah beliau terdorong untuk membelanya kecuali lantaran terpengaruh oleh Aqidah Salafus Soleh dan pandangan beliau akan kebangkitan muslimin jika terbangun dari kelalaian mereka, agar kembali kepada agama mereka dengan berpegang kepada aqidah yang selamat ini. Dan diantara tulisan-tulisan beliau, saya menemukan beberapa risalah yang telah diterbitkan dalam majalah al-Manar dan surat kabar al-Ahram. Risalah-risalah tersebut dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul al-Wahabiyun wal Hijjaz diterbitkan pertama kali pada 1344H. dan sekarang menjadi sebuah kitab dengan memakai judul tersebut dan ditambahkan beberapa pembahasan yang menerangkan dengan jelas hakikat aqidah salafiyyah sebagiamana tulisan beliau, Syahadatul Tarikh lil Wahabiyin."


http://wahabiah.blogspot.com


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails