Sabtu, 20 September 2008

UCAPAN "SESUNGGUHNYA ALLAH BERADA DI MANA-MANA."

Pertanyaan:

Saya teringat sebuah kisah di salah satu station radio saat salah seorang anak bertanya kepada ayahnya tentang Allah, lalu ayahnya menjawab bahwa Allah berada di setiap tempat (di mana-mana). Pertanyaan yang ingin saya ajukan, "Bagaimana hukum syariat terhadap jawaban yang seperti ini?"


Jawapan dari Syeikh 'Utsaimin Rahimahullah:

Itu adalah jawaban yang batil dan termasuk ucapan ahli bid'ah seperti Jahmiyyah, Mu'tazilah dan orang yang sejalan dengan madzhab mereka.

Jawaban yang tepat dan sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah adalah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala berada di langit, di Arasy, di atas seluruh makhlukNya dan ilmuNya meliputi semua tempat sebagaimana yang didukung oleh ayat-ayat al-Qur'an, hadits-hadits Nabi dan ijma' ulama Salaf. Di dalam al-Qur'an, Allah berfirman:


إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ


"Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy." (Al-A'raf: 54).

Hal ini ditegaskan oleh Allah dengan mengulang-ulangnya dalam enam ayat yang lain di dalam kitabNya.

Makna istiwa' menurut Ahlussunnah adalah tinggi dan naik di atas Arasy sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala , tidak ada yang mengetahui caranya selainNya. Hal ini sebagaimana ucapan Imam Malik ketika ditanya tentang hal itu:


اَلاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ، وَالْكَيْفُ مَجْهُوْلٌ، وَاْلإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسَّؤُالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ


" Istiwa' itu dimaklumi sedangkan caranya tidak diketahui, beriman dengannya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid'ah."

Yang dimaksud oleh beliau adalah bertanya tentang bagaimana caranya. Ucapan semakna berasal pula dari syeikh beliau, Rabiah bin Abdurrahman. Demikian juga sebagaimana yang diriwayatkan dari Ummu Salamah. Ucapan semacam ini adalah pendapat seluruh Ahlussunnah; para sahabat dan para tokoh ulama Islam setelah mereka.

Allah telah menjelaskan dalam ayat-ayat yang lain bahwa Dia berada di langit dan di ketinggian, seperti dalam firman-firmanNya:


فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ


"Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha tinggi lagi Maha besar." (Ghafir: 12).


إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ


"KepadaNyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkanNya." ( Fathir: 10).


وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


"Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha tinggi lagi Maha besar." (Al-Baqarah: 255).


أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ


"Apakah kamu merasa terhadap Allah yang di langit bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang." (Al-Mulk: 16).


أَمْ أَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ


"Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu." (Al-Mulk: 17)

Allah telah menjelaskan secara jelas dalam banyak ayat di dalam kitabNya yang mulia bahwa Dia berada di langit, di ketinggian dan hal ini selaras dengan ayat-ayat berkenaan 'istiwa''.

Dengan demikian, diketahui bahwa perkataan ahli bid'ah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala berada di setiap tempat (di mana-mana) tidak lain adalah sebatil-batil perkataan. Ini pada hakikatnya adalah madzhab 'al-Hulul' yang diada-adakan dan sesat bahkan merupakan kekufuran dan pendustaan terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala serta pendustaan terhadap RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam di mana secara shahih bersumber dari beliau menyatakan bahwa Rabbnya berada di langit, seperti sabda beliau:


أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فِي السَّمَاءِ؟


"Tidakkah kalian percaya kepadaku padahal aku ini adalah amin (orang kepercayaan) Dzat Yang berada di langit?" (Shahih al-Bukhari, kitab al-Maghazi, no. 4351; Shahih Muslim, kitab az-Zakah, no. 144, 1064).

Demikian pula yang terdapat di dalam hadits-hadits tentang Isra' dan Mi'raj serta selainnya.


Rujukan:

Majalah ad-Da'wah, vol.1288, Fatwa Syaikh Ibnu Baz.

Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 1, penerbit Darul Haq.

Sumber: http://www.fatwa-ulama.com

Kaidah Tentang Sifat-Sifat Allah Jalla Jalaluhu Menurut Ahlus Sunnah

Sifat-sifat yang disebutkan Allah tentang Diri-Nya ada dua macam: Sifat Tsubutiyah dan Sifat Salbiyah.

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas


Pertama: Sifat Tsubutiyah.

Sifat Tsubutiyah, ialah setiap sifat yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk Diri-Nya di dalam al-Qur'an atau melalui sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Sifat-sifat ini semuanya adalah sifat kesempurnaan, tidak menun-jukkan sama sekali adanya cela dan kekurangan. Contohnya: Hayaah (hidup), Ilmu (mengetahui), Qudrah (berkuasa), Istiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy, Nuzuul (turun) ke langit terendah, Wajh (wajah), Yad (tangan) dan lain-lainnya.

Sifat-sifat Allah tersebut wajib ditetapkan benar-benar sebagai milik Allah sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, berdasarkan dalil naqli dan ‘aql.

Sifat Tsubutiyah ada dua macam: Dzaatiyah dan Fi’liyah.

Sifat Dzaatiyah, ialah sifat yang senantiasa dan selamanya tetap berada pada diri Allah Azza wa Jalla. Seperti: Hayat (hidup), Kalam (berbicara), ‘Ilmu (mengetahui), Qudrah (berkuasa), Iradah (keinginan), Sami’ (pendengaran), Bashar (penglihatan), Izzah (kemuliaan, keperkasaan), Hikmah (kebijaksanaan), ‘Uluww (ketinggian, di atas makhluk), ‘Azhamah (keagungan). Dan termasuk dalam sifat ini adalah sifat Khabariyah seperti adanya wajah, yadain (dua tangan) dan ‘ainan (dua mata).

Sifat Fi’liyah, ialah sifat yang terikat dengan masyi’ah (kehendak) Allah Azza wa Jalla. Jika Allah menghendaki, dilakukan-Nya, dan jika tidak, dilakukan-Nya. Seperti; Istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy dan nuzul (turun) ke langit terendah, ataupun datang pada hari Kiamat, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:


وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

"Dan datanglah Rabb-mu, sedang Malaikat berbaris-baris.” [Al-Fajr: 22]

Boleh juga suatu sifat menjadi dzaatiyah-fi’liyah, ditinjau dari dua segi, seperti kalaam (pembicaraan) ditinjau dari segi asal atau pokoknya adalah sifat dzaatiyah kerana Allah Azza wa Jalla selamanya akan tetap berbicara, tetapi ditinjau dari segi satu persatu terjadinya kalam adalah sifat fi’liyah kerana terikat dengan masyi-ah (kehendak), dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala berbicara apa saja yang Dia kehendaki bila Dia menghendaki. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:


إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berfirman kepadanya: ‘Jadilah, maka terjadilah.” [Yaasin: 82]

Dan setiap Sifat Allah yang terikat dengan masyi’ah adalah mengikuti hikmahNya. Hikmah ini kadangkala dapat kita ketahui, tetapi kadangkala kita tidak mampu memahami, namun kita benar-benar yakin bahwa Allah Azza wa Jalla tidak menghendaki sesuatu melainkan apa yang dikehendaki-Nya itupun sesuai hikmah-Nya, seperti yang diisyaratkan Allah melalui firman-Nya:


وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Dan kamu tidak menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana" [Al-Insaan: 30]

Kedua: Sifat Salbiyah

Sifat Salbiyah, ialah setiap sifat yang dinafikan Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi Diri-Nya melalui Al-Qur’an atau sabda Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam . Dan seluruh sifat ini adalah sifat kekurangan dan tercela bagi Allah, contohnya; maut (mati, tidak hidup), naum (tidur), jahl (bodoh), nisyan (kelupaan), ‘ajz (kelemahan, ketidakmampuan), ta’ab (kecapekan, kelelahan). Sifat-sifat tersebut wajib dinafikan dari Allah Azza wa Jalla berdasarkan keterangan di atas, dengan disertai penetapan sifat kebalikannya secara lebih sempurna. Misalnya, menafikan maut (mati) dan naum (tidur) bererti menetapkan kebalikannya bahwasanya Allah Dzat Yang Maha hidup dengan sempurna, menafikan jahl (kebodohan) bererti menetapkan bahwasanya Allah Dzat Yang Maha mengetahui dengan ilmu-Nya yang sempurna.[1]


[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

________________
[1]. Lihat at-Tanbiihat al-Lathiifah ‘ala Mahtawat ‘alaihil ‘Aqiidah al-Wasithiyah min al-Mabaahits al-Muniifah (hal. 40, 47) karya Syaikh as-Sa’di dan al-Qawaaidul Mutsla fii Shiffatilaahi wa Asmaa’ihil Husna (hal.59-63) karya Syaikh Muhammad al-Utsaimin serta Syarah ‘Aqiidah Wasithiyyah oleh Khalil Hiras hal. 159-160.

Isnin, 15 September 2008

ASYA'IRAH PADA PERTIMBANGAN AHLI SUNNAH


Kitab: "Ahl al-Sunnah al-'Asya'irah: Syahadah 'Ulama al-Ummah wa adillatuhum."

Pengarangn: Hamad al-Sinan dan Fauzi al-'Anjari.

Bilangan muka surat: 318

Cetakan: Darul al-Dhiya'

Muat turun: (klik)


Kitab: "Al-'Asya'irah Fi Mizan Ahl al-Sunnah." (Radd kepada kitab di atas)

Pengarang: Abu 'Utsman Faishal bin Qazar al-Jasim

Bilangan muka surat: 824

Cetakan: Al-Mabarrah al-Khairiyyah li'ulum al-Qur'an wa al-Sunnah Daulah al-Kuwait, Cetakan Pertama, 2007M/1428H.

Muat turun: (klik)


Kitab Al-'Asya'irah Fi Mizan Ahl al-Sunnah kitab yang sangat bagus bagi menjawab persoalan-persoalan berkenaan sifat-sifat Allah beserta dengan riwayat-riwayat atau pendapat-pendapat para sahabat, tabi'in dan tabi' tabin dari kalangan salafus soleh.


Ringkasan buku tersebut:


Bahagian pertama:

Ia menceritakan bagaimanakah usul Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah yang bertentangan dengan Asya'irah:


Fasal awal

Dalil-dalil yang disebutkan dalam al-Quran dan al-Sunnah menetapkan secara hakiki, Atsar yang disebut oleh Salaf yang menetapkan sifat Allah secara hakiki dan pertentangan Asya'irah dengan Salaf serta menjawab syubhat mereka berkenaan bab ini.


Fasal kedua

Atsar daripada Salaf menunjukkan sifat Allah itu dimaklumi maknaNya dan tidak diketahui hakikatNya dan pertentangan Asya'irah dengan Salaf serta menjawab syubhat mereka dalam bab ini.


Fasal ketiga

Atsar Salaf tentang wajibnya mengembalikan nas-nas tentang sifat Allah sebagaimana zahirnya dan pertentangan Asya'irah dengan Salaf serta menjawab syubhat mereka.


Fasal keempat.

Nas imam-imam ahl al-Sunnah menunjukkan keharaman mentakwil dengan mengeluarkan nas-nas sifat daripada asalnya dan pertentangan Asya'irah dengan Salaf serta menjawab syubhat mereka.


Fasal kelima

Nas para Salaf menunjukkan kaedah penetapan pada keseluruhan sifat dan menjawab syubhat.


Fasal keenam

Atsar Salaf menunjukkan melazimi sifat Allah tidak membawa makna melazimi sifat makhluk dan menjelaskan syubhat Asya'irah.


Fasal ketujuh

Nas para imam ahl al-Sunnah tentang hakikat Tasybih dan menjawab syubhat.


Bahagian kedua:

Ia menceritakan bahawa penetapan sebahagian sifat oleh kedua-dua pengarang menunjukkan mereka memasukkan perubahan dan pengosongan pada sifat Allah.


Fasal Awal

Telah menjadi kesepakatan Allah meninggi di atas makhluknya dengan diriNya dan sesungguhnya Dia berada di atas 'Arasy dengan ZatNya. Menjawab syubhat Asya'irah.


Fasal kedua

Harusnya dengan pertanyaan "Di Mana Allah" beserta dalil daripada Sunnah dan perkataan Salaf serta menjawab syubhat.


Fasal ketiga

Penisbatan sifat Kalam bagi Allah dengan huruf dan suara, tidak disamakan dengan makhluk dan Nas Salaf bukti adanya huruf dan suara pada kalam Allah. Menolak syubhat mereka.


Dan seterusnya perbahasan kitab ini sehingga bahagian 5 semuanya menjawab segala syubhat-syubhat dan kelemahannya aqidah Al-Asya'irah dengan penuh ilmiah, bukti, dalil dengan teliti. Ia merungkai masalah-masalah sehinggalah tiada lagi kata dalih untuk dijawab melainkan mereka yang menurut hawa nafsu semata. Bacalah kedua-dua buah kitab di atas dengan adil tidak mengambil sebahagian dan meninggalkan sebahagian yang lain.


http://www.wahabiah.blogspot.com

Sabtu, 16 Ogos 2008

PELAJARAN TENTANG NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH (2)

Masalah mengenai nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah masalah Taufiqiyah yang tidak ada peluang bagi aqal mendahului nas atau dalil daripada Al-Quran mahu pun Al-Sunnah. Tidaklah mampu bagi aqal kita mencapai untuk mengenal bagaimanakah sifat-sifat Tuhan, melainkan apa yang Dia sendiri telah memberi tahu dengan wahyu melalui Nabi-Nya s.a.w. Kerana itulah ramai yang terjatuh kelembah kesesatan dalam masalah ini kerana mendahului aqal daripada wahyu. Allah lah yang berhak mensifati diri-Nya kerana Dialah yang lebih mengetahui tentang diri-Nya berbanding makhluk yang tiada upaya mencapai perkara ghaib yang antaranya ialah hakikat ketuhanan itu sendiri.

Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah r.a. berkata: “Allah menamakan diri-Nya dengan beberapa nama dan menamai sifat-sifat-Nya dengan beberapa nama. Apabila asma’ tersebut disandarkan (di-idhofahkan) kepada Allah, bererti asma’ itu hanya untuk-Nya, tiada sesuatu pun yang menyekutui-Nya pada sifat tersebut. Dia juga memberi nama sebahagian makhluk-Nya dengan beberapa nama hanya untuk mereka, yang disandarkan kepada mereka sesuai dengan nama-nama tersebut apabila diputuskan dari sandaran dan pengkhususan (takhsis). Persamaan nama tidak menunjukkan persamaan yang diberi nama. Bersatunya nama ketika kosong dari sandaran dan pengkhususan tidak menunjukkan persamaan keduanya, juga tidak menunjukkan persamaan yang dinamai ketika idhofah dan takhsis, apalagi tatkala sama yang diberi nama ketika idhafah dan takhsis. “ [Lihat: At-Tadmuriyyah oleh Syeikhul Islam Ibn Taimiyyah hlm. 21]

Kaedah utama dalam masalah ini adalah hendaklah menghindari daripada perbuatan: Tasybih, Tamstil, Takyif, dan Ta’thil.

Pertama: Allah menamai diri-Nya al-Hayy (yang Maha Hidup):


اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ


“Allah tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)…” [Surah Al-Baqarah: 255)

Dia juga memberi nama sebahagian hamba-Nya al-Hayy (yang hidup):


يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ


“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup…” [Surah Ar-Ruum: 19]

Bukanlah al-Hayy dalam ayat ini seperti al-Hayy pada ayat di atas, kerana firman-Nya “Al-Hayy” adalah nama Allah S.W.T. yang khusus bagi-Nya dan firman-Nya:

“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati…”

Kedua: Allah menamakan diri-Nya ‘Alim dan Halim (Yang Maha Mengetahui dan Maha Penyantun). Sedangkan hamba-Nya juga ada yang diberi dengan nama ‘Alim dan Halim:


وَبَشَّرُوهُ بِغُلاَمٍ عَلِيمٍ


“…Dan mereka memberi khabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang ‘alim.” [Surah al-Dzaariat: 28]

Ayat di atas yang dimaksudkanh adalah Nabi Ishaq a.s. Adapun anak Ibrahim yang lain disebut “Halim” iaitu Isma’il a.s. . Firman Allah:


فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيمٍ


“Maka kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang halim (amat sabar).” [Surah al-Shaaffat: 101]

Ketiga: Allah menamai diri-Nya Samii’ (Yang Mendengar) dan Bashir (Yang Melihat):


إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا


“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.[Surah al-Nisaa’: 58]

Dia juga menamai sebahagian makhluk-Nya dengan nama Samii’ dan Bashir:


إِنَّا خَلَقْنَا الإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setitis air mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” [Surah al-Insaan: 2]

Keempat: Allah menamai diri-Nya dengan nama ar-Rauuf ar-Rahiim:


إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ


“…Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang lagi Maha Penyayang kepada Manusia.” [Surah al-Baqarah: 143]

Dia juga memberi nama kepada sebahagian hamba-Nya dengan ar-rauuf ar-rahiim dalam firman-Nya:


لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ


“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu ar-rauuf (amat belas kasihan) lagi rahiim (penyayang) terhadap orang-orang Mukmin.” [Surah at-Taubah: 128]

Kelima: Dia menamai diri-Nya al-Malik:


...الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ...


“…Dia Raja Yang Maha Suci…” [Surah al-Hasyr: 23]

Dia juga menamakan sebahagian hamba-Nya dengan al-Malik dalm firman-Nya:


وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا


“…Kerana dihadapan mereka ada malik (seorang raja) yang merampas tiap-tiap bahtera.” [Surah al-Kahfi: 79]

Keenam: Dia menamai diri-Nya al-‘Aziz dan al-Jabbar al-Mutakabbir dalam firman-Nya:


...الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ...


“…Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan…” [Surah al-Hasyr: 23]

Dia juga memberi nama kepada sebahagian hamba-Nya dengan al-‘Aziz dalam firman-Nya:


قَالَتِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ


“…Berkata isteri al-‘Aziz…” [Surah Yusuf: 51]

Begitu juga al-Jabbar al-Mutakabbir dinamai pada sebahagian hamba-Nya sebagaimana firman-Nya:


كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ


“…Demikian Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” [Surah al-Mu’min: 35]

Ketujuh: Dia mensifati diri-Nya dengan iradah (berkehendak) dan mensifati hamba-Nya dengan sifat iradah dalam firman-Nya:


تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الآَخِرَةَ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ


“…Kamu menghendaki harta duniamiyah, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Surah al-Anfaal: 67]

Ketujuh: Dia mensifati diri-Nya bahawasanya Dia beristiwa’ (bersemanyam) di atas ‘Arasy sebagaimana sekian banyaknya dalil-dalil daripada al-Quran. [Lihat surah: Thaaha ayat 5, al-A’raaf ayat 54, Yunus ayat 3, al-Ra’d ayat 2, al-Furqaan ayat 59, as-Sajdah ayat 4, dan al-Hadiid ayat 4.]

Lalu Allah juga mensifati hambanya dengan istiwa di atas yang lain sebagaimana firman-Nya:


لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ


“Supaya kamu duduk di atas punggungnya…” [Surah al-Zukhruf: 13]


فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنْتَ وَمَنْ مَعَكَ عَلَى الْفُلْكِ


“Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu…” [Surah al-Mu’minun: 28]


وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ


“…Dan bahtera itu pun berlabuh di atas Bukit Judi…” [Surah Huud: 44]

Namun, Istiwa-Nya tidak sama seperti istiwa makhluk sebagaimana juga sifat-sifat yang lain-Nya.

Kelapan: Dia mensifati diri-Nya dengan membuka kedua Tangan-Nya seperti mana firman-Nya:


وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ


“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu.” sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (tidak demikian), bahkan kedua-dua Tangan Allah itu terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.” [Surah al-Maidah: 64]

Sedangkan dia juga pernah mensifati sebahagian hamba-Nya dengan membuka kedua tangan dalam firman-Nya:


وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ


“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu menghulurkannya…” [Surah al-Israa’: 29]

Bukanlah tangan Allah seperti tangan makhluk. Dia membuka tangan-Nya juga bukan seperti makhluk membuka tangan mereka. Apabila yang dimaksud dengan membuka adalah memberi dan pemurah, maka tidaklah pemberian Allah S.W.T seperti makhluk-Nya dan tidaklah sifat pemurah-Nya sama seperti sifat pemurah mereka.

Ibn Qayyim al-Jauziah berkata: “Pandangan (para ulama) berbeza-beza pada masalah nama-nama yang dipakaikan kepada Allah dan makhluk seperti al-Hayy, al-Samii’, al-Bashir, al-‘Alim, al-Qadir, al-Malik dan seumpamanya.

Pendapat pertama: Segolongan dari ahli kalam berkata: “Ia adalah hakikat pada hamba dan majaz pada Rabb.” Ini adalah pendapat ghulaat al-Jahmiyyah yang merupakan perkataan yang paling keji dan paling rosak.

Pendapat kedua: Berlawanan, iaitu bahawasanya sifat itu hakikat pada Rabb dan majaz pada makhluk. Ini adalah pendapat Abul ‘Abbas an-Naasyi.

Pendapat ketiga: Semua adalah hakikat pada keduanya. Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah dan inilah yang benar. Perbezaan hakikat pada keduanya tidak mengeluarkannya sebagai hakikat pada keduanya. Bagi Rabb, yang layak sesuai dengan kebesaran-Nya dari sifat tersebut dan bagi hamba, yang layak baginya sesuai dengan sifat tersebut. [Lihat: Badaa-i’ul Fawaa-id oleh Ibnul Qayyim (I/164)]


http://www.wahabiah.blogspot.com

Isnin, 11 Ogos 2008

ANDA BERAQIDAH TIDAK SELAMAT!!?

Sesungguhnya orang-orang yang mentakwil ayat-ayat sifat, dia berada di dalam 4 kesesatan sekaligus, iaitu ta’wil, ta’thil, takyif dan tasybih. Walaupun mereka mengatakan bahwa mereka mentakwil dengan maksud untuk tanzih. Orang yang mentakwil sifat tangan (yad) contohnya dengan makna kekuasaan atau kekuatan, sesungguhnya mereka telah:

1. Mentiadakan (ta’thil) makna tangan bagi Allah, dimana Allah menetapkan makna tangan bagi diri-Nya.

2. Mentasybih sifat tangan Allah dengan makhluk-Nya, iaitu dengan cara meniadakannya, sebab jika ditetapkan sifat tersebut, maka Allah seperti makhluknya.

3. Mentakyif sifat tangan bagi Allah, iaitu dengan cara tidak menetapkannya, yang mana jika menetapkan sifat tersebut, maka mereka tidak mampu menjangkau hakikatnya sedangkan kekuasaan mampu mereka jangkau.

4. Menta’wil kata tangan dengan makna lainnya, hal ini juga mengindikasikan bahwa hakikat tangan itu sendiri adalah ada. Karena Allah menggunakan kata tangan itu sendiri.

Lantas, mengapa anda mentakwil makna tangan bagi Allah dengan makna kekuasaan atau kekuatan?? Jika anda mengatakan dengan maksud makna tanzih (mensucikan) sifat Allah dari tajsim atau tasybih, maka kami tanyakan kepada anda? Mengapa anda tidak menetapkan tangan bagi Allah namun anda menetapkan sifat kekuatan atau kekuasaan??

Jika dijawab, Allah berhak atas sifat sempurna berkuasa dan kekuatan, namun tidak layak disifati dengan memiliki tangan, sebab nanti seperti makhluknya.

Kami tanyakan kepada anda kembali, siapakah yang lebih tahu tentang Allah?? Tentunya pasti dijawab Allah. Lantas mengapa anda lantang meniadakan sifat yang Allah sifatkan sendiri bagi diri-Nya.

Siapakah makhluk yang paling mengetahui tentang Allah? Pasti dijawab, Rasulullah. Lantas mengapa anda meniadakan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah. Apakah anda merasa lebih ’alim daripada Allah dan rasul-Nya?!!

Jika mereka menjawab : Kami tidak menetapkan sifat tersebut bagi Allah, melainkan supaya Allah memiliki kesempurnaan dan sebagai tanzih bagi Allah dari segala sifat kekurangan.

Maka kami katakan : Atas dasar apa anda mengatakan sifat tangan adalah sifat kurang bagi Allah?? Bukankah Allah dan rasul-Nya sendiri yang menetapkan sifat tangan bagi Allah?!! Apakah anda lantang untuk kesekian kalinya merasa lebih alim dari Allah dan Rasul-Nya.

Jika mereka mengatakan, kalau Allah disifatkan dengan tangan maka Allah akan seperti makhluk-Nya.

Maka kami katakan : Berarti anda yang mentasybih atau mentamtsil Allah, karena Allah sendiri yang menetapkan sifat tangan bagi-Nya dan Ia sendiri menyatakan : ”Tidak ada yang serupa dengan-Nya”. Bukankah manusia juga punya kekuasaan dan kekuatan?? Lantas mengapa tidak anda katakan bahwa jika Allah ditetapkan dengan kekuatan dan kekuasaan maka Allah akan seperti makhluk-Nya??

Jika mereka menjawab : Karena Allah layak ditetapkan dengan kekuatan dan kekuasaan namun tidak layak dengan tangan. Karena kalau ditetapkan dengan tangan maka berkonsekuensi tajsim dan tasybih bagi Allah.

Maka kami jawab : dasar apa anda mengatakan Allah layak bersifat demikian dan tidak layak demikian?!! Apakah anda memikiki dalil yang Allah dan Rasul-Nya sebutkan?!! Maka kami katakan lagi, anda tidak punya dalil melainkan berangkat dari pemahaman akal anda!!! Bukankah manusia memiliki tangan?? Juga bukankah manusia memiliki kekuasaan dan kekuatan?!! Lantas mengapa anda hanya mengatakan kalau Allah memiliki tangan maka Allah seperti makhluk-Nya, padahal makhluk-Nya juga punya kekuasaan dan kekuatan?!!

Jika mereka berkilah : Kekuasaan dan kekuatan makhluk terbatas dan berbeda dengan kekuasaan dan kekuatan Allah.

Maka kami katakan, demikian pula tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya. Allah sendiri yang menetapkan tangan bagi diri-Nya maka Ia berhak untuk mendapatkan sifat tangan bagi diri-Nya, dan tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya sebagaimana kekuatan dan kekuasaan Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Falillahi hamdu, sesungguhnya pemahaman anda adalah pemahaman yang lemah dan pemahaman kami adalah pemahaman yang selamat dan sehat.

Jika mereka masih berkilah : Sifat Allah di dalam al-Qur’an atau Sunnah nabi-Nya adalah majaz, sebagaimana perkataan orang arab : Ja’a asadun yang memiliki dua makna, yaitu singa sebenarnya yang datang atau orang yang pemberani yang disifati seperti macan.

Maka kami jawab, majaz adalah perkara yang baru di dalam agama, dan al-Qur’an diturunkan dengan kalam yang tegas dan jelas, melainkan hanya sebagian kecil saja yang mutasyabihat. Pernyataan anda bahwa ayat sifat adalah ayat mutasyabihat adalah seperti pernyataan mu’tazilah. Sesungguhnya ayat sifat bagi Allah adalah muhkam maknanya dan mutasyabihat hakikatnya. Bukan mutasyabihat makna dan hakikatnya.

Menyatakan di dalam al-Qur’an terdapat majaz sama artinya mengatakan al-Qur’an diturunkan dengan keraguan makna. Karena majaz mengundang interpretasi yang berbeda dari setiap manusia yang membacanya. Dan ini jelas suatu kebathilan. Sesungguhnya Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang lugas lagi mudah difahami, tidak terkandung majaz di dalamnya.

Adapun contoh majaz yang anda kemukakan, seperti Ja’a asadun maka yang harus difahami adalah kata asad sendiri memiliki makna hakiki seekor singa, maka orang yang menakwil kata singa pada hakikatnya mereka menetapkan makna singa itu sendiri dikarenakan mereka memiliki gambaran singa. Sehingga mereka mengatakan bahwa asad yang dimaksud di sini orang yang pemberani bagaikan singa.

Juga harus difahami, majaz datang di dalam bahasa harus memiliki qorinah yang mendukung terjadinya pemalingan makna dari makna zhohir ke makna selainnya. Oleh karena itu, jika ada orang berkata : Ja’a asadun tanpa ada qorinah sedikitpun yang menunjukkan adanya pemalingan makna asad ke makna lainnya, maka memalingkannya adalah suatu kebodohan dan kebatilan. Namun jika ada qorinah yang menyertai, dalam konteks tertentu maka majaznya benar. Wallahu a’lam.

Dinukil dari "Himpunan Risalah" Maktabah Abu Salmah edisi CHM Book: http://www.abusalama.wordpress.com

Ahad, 10 Ogos 2008

SYEIKHUL ISLAM IBN TAIMIYYAH

Taman rindang itu dipenuhi beraneka tanaman. Bunga-bunga mewangi, sementara buah ranum menyembul disela-sela dahannya yang rimbun. Disatu pojok, sebatang tunas tumbuh dan berkembang dengan segarnya. Batangnya kokoh, rantingnya dihiasi pucuk-pucuk daun lebat dengan akar terhujam kebumi. Tunas itu khas. Ia berada ditempat yang khas. Jika fajar menyingsing sinar mentari menerpa pucuk-pucuknya. Ketika siang menjelang ia dipayungi rimbunan dahan di sekitarnya. Dan saat petang beranjak, sang raja siangpun sempat menyapa selamat tinggal melalui sinarnya yang lembut. Sang tunas tumbuh dalam suasana hangat. Maka tak heran jika ia tumbuh dalam, berbuah lebat, berbatang kokoh dan berdahan rindang. Tunas itu adalah Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyyah.

Ia berasal dari keluarga taqwa. Ayahnya Syihabuddin bin Taymiyyah. Seorang Syaikh, hakim, khatib, 'alim dan wara'. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taymiyyah Al-Harrani. Syaikhul Islam, Ulama fiqih, ahli hadits, tafsir, Ilmu Ushul dan hafidz.

Lahir di harran, 10 Rabiul Awwal 661 H di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam. Ketika berusia enam tahun, Taymiyyah kecil dibawa ayahnya ke Damaskus.

Di Damaskus ia belajar pada banyak guru. Ilmu hitung, khat, Nahwu, Ushul fiqih merupakan bagian dari ilmu yang diperolehnya. Di usia belia ia telah mereguk limpahan ilmu utama dari manusia utama. Dan satu hal ia dikaruniai Allah Ta'ala kemampuan mudah hafal dan sukar lupa. Hingga dalam usia muda , ia telah hafal Al-qur'an.

Tak hanya itu, iapun mengimbangi ketamakannya menuntut ilmu dengan kebersihan hatinya. Ia amat suka menghadiri majelis-majelis mudzakarah (dzikir). Pada usia tujuh belas tahun kepekaannya terhadap dunia ilmu mulai kentara. Dan umur 19, ia telah memberi fatwa.

Ibnu Taymiyyah amat menguasai rijalul Hadits (perawi hadits) dan Fununul hadits (macam-macam hadits) baik yang lemah, cacat atau shahih. Beliau memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Dalam mengemukakan ayat-ayat sebagai hujjah, ia memiliki kehebatan yang luar biasa, sehingga mampu mengemukakan kesalahan dan kelemahan para mufassir. Tiap malam ia menulis tafsir, fiqh, ilmu 'ushul sambil mengomentari para filosof . Sehari semalam ia mampu menulis empat buah kurrosah (buku kecil) yang memuat berbagai pendapatnya dalam bidang syari'ah. Ibnul Wardi menuturkan dalam Tarikul Ibnul Warid bahwa karangan beliau mencapai lima ratus judul.

Al-Washiti mengemukakan: "Demi Allah, syaikh kalian (Ibnu Taymiyyah) memiliki keagungan khuluqiyah, amaliyah, ilmiyah dan mampu menghadapi tantangan orang-orang yang menginjak-injak hak Allah dan kehormatanNya."

Mujahid Dan Mujaddid

Dalam perjalanan hidupnya, beliau juga terjun ke masyarakat menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar. Ia tak mengambil sikap uzlah melihat merajalelanya kema'syiyatan dan kemungkaran. Suatu saat, dalam perjalanannya ke Damaskus, disebuah warung yang biasa jadi tempat berkumpulnya para pandai besi, ia melihat orang bermain catur. Ia langsung mendatangi tempat itu untuk mengambil papan catur dan membalikkannya. Mereka yang tengah bermain catur hanya termangu dan diam.

Beliau juga pernah mengobrak-abrik tempat pemabukkan dan pendukungnya. Bahkan, pernah pada suatu jum'at, Ibnu Taymiyyah dan pengikutnya memerangi penduduk yang tinggal digunung jurdu dan Kasrawan karena mereka sesat dan rusak aqidahnya akibat perlakuan tentara tar-tar yang pernah menghancurkan kota itu. Beliau kemudian menerangkan hakikat Islam pada mereka.

Tak hanya itu, beliau juga seorang mujahid yang menjadikan jihad sebagai jalan hidupnya. Katanya: "Jihad kami dalam hal ini adalah seperti jihad Qazan, jabaliah, Jahmiyah, Ittihadiyah dan lain-lain. Perang ini adalah sebagian nikmat besar yang dikaruniakan Allah Ta'ala pada kita dan manusia. Namun kebanyakan manusia tak banyak mengetahuinya."

Tahun 700 H, Syam dikepung tentara tar-tar. Ia segera mendatangi walikota Syam guna memecahkan segala kemungkinan yang terjadi. Dengan mengemukakan ayat Alqur'an ia bangkitkan keberanian membela tanah air menghalau musuh. Kegigihannya itu membuat ia dipercaya untuk meminta bantusan sultan di Kairo. Dengan argumentasi yang matang dan tepat, ia mampu menggugah hati sultan. Ia kerahkan seluruh tentaranya menuju Syam sehingga akhirnya diperoleh kemenangan yang gemilang.

Pada Ramadhan 702 H, beliau terjun sendiri kemedan perang Syuquq yang menjadi pusat komando pasukan tar-tar. Bersama tentara Mesir, mereka semua maju bersama dibawah komando Sultan. Dengan semangat Allahu Akbar yang menggema mereka berhasil mengusir tentara tar-tar. Syuquq dapat dikuasai.

Pandangan Dan Jalan Fikiran

Pemikiran Ibnu Taymiyyah tak hanya merambah bidang syar'I, tapi juga mengupas masalah politik dan pemerintahan. Pemikiran beliau dalam bidang politik dapat dikaji dari bukunya Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah fi naqdh Kalam as-Syi'ah wal Qadariyah (Jalan Sunnah Nabi dalam pemyangkalan terhadap keyakinan kalangan Syi'ah dan Qadariyah), As-Siyasah as-Syar'iyah (Sistem Politik Syari'ah), Kitab al-Ikhriyaratul 'Ilmiyah (Kitab aturan-aturan yuridis yang berdiri sendiri) dan Al-Hisbah fil Islam (Pengamat terhadap kesusilaan masyarakat dalam Islam)

Sebagai penganut aliran salaf, beliau hanya percaya pada syari'at dan aqidah serta dalil-dalilnya yang ditunjukkan oleh nash-nash. Karena nash tersebut merupakan wahyu yang berasal dari Allah Ta'ala. Aliran ini tak percaya pada metode logika rasional yang asing bagi Islam, karena metode semacam ini tidak terdapat pada masa sahabat maupun tabi'in. Baik dalam masalah Ushuludin, fiqih, Akhlaq dan lain-lain, selalu ia kembalikan pada Qur'an dan Hadits yang mutawatir. Bila hal itu tidak dijumpai maka ia bersandar pada pendapat para sahabat, meskipun ia seringkali memberikan dalil-dalilnya berdasarkan perkataan tabi'in dan atsar-atsar yang mereka riwayatkan.

Menurut Ibnu Taymiyyah, akal pikiran amatlah terbatas. Apalagi dalam menafsirkan Al-Qur'an maupun hadits. Ia meletakkan akal fikiran dibelakang nash-nash agama yang tak boleh berdiri sendiri. Akal tak berhak menafsirkan, menguraikan dan mentakwilkan qur'an, kecuali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) dan dikuatkan oleh hadits. Akal fikiran hanyalah saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil Al-Qur'an.

Bagi beliau tak ada pertentangan antara cara memakai dalil naqli yang shahih dengan cara aqli yang sharih. Akal tidak berhak mengemukakan dalil sebelum didatangkan dalil naqli. Bila ada pertentangan antara aqal dan pendengaran (sam'i) maka harus didahulukan dalil qath'i, baik ia merupakan dalil qath'i maupun sam'i.

Polemik Ibnu Taymiyah

Pribadi Ibnu Taymiyyah memiliki banyak sisi. Sebuah peran yang sering terlihat adalah kegiatannya menentang segala bid'ah, khurafat dan pandangan-pandangan yang menurutnya sesat. Tak heran jika ia banyak mendapat tantangan dari para ulama.

"Sesungguhnya saya lihat ahli-ahli bid'ah, orang-orang yang besar diombang-ambingkan hawa nafsu seperti kaum mufalsafah (ahli filsafat), Bathiniyah (pengikut kebathinan), Mulahadah (mereka yang keras menentang Allah) dan orang-orang yang menyatakan diri dengan wihdatul wujud (bersatunya hamba dengan khaliq), Dahriyah (mereka yang menyatakan segalanya waktu yang menentukan), Qadhariyah (manusia berkehendak dan berkuasa atas segala kemauannya), Nashiriyah, Jamhiyah, Hulliyah, mu'thilah, Mujassamah, Musyibihah, Rawandiyah, Kilabiyah, Salimiyah dan lain-lain yang terdiri atas orang-orang yang tenggelam dalam kesesatan, dan mereka yang telah tertarik masuk kedalamnya penuh sesat. Sebagian besar mereka bermaksud melenyapkan syari'at Muhammad yang suci, yang berada diatas segala agama. Para pemuka aliran sesat tersebut menyebabkan manusia berada dalam keraguan tentang dasar-dasar agama mereka. Sedikit sekali saya mendengan mereka menggunakan Al-qur'an dan hadits dengan sebenarnya. Mereka adalah orang-orang zindiq yang tak yakin dengan agama. Setelah saya melihat semua itu, jelaslah bagi saya bahwa wajib bagi setiap orang yang mampu untuk menentang kebathilan serta melemahkan hujjah-hujjah mereka, untuk mengerahkan tenaganya dalam menyingkap keburukkan-keburukkannya dan membatalkan dalil-dalilnya." Demikian diantara beberapa pendapatnya yang mendapat tantangan dari mereka yang merasa dipojokkan dan disalahkan.

Tahun 705 H, kemampuan dan keampuhan Ibnu Taymiyyah diuji. Para Qadhi berkumpul bersama sultan di istana. Setelah melalui perdebatan yang sengit antara mereka, akhirnya jelah bahwa Ibnu Taymiyyah memegang aqidah sunniyah salafiyah. Banyak diantara mereka menyadari akan kebenaran Ibnu Taymiyyah.

Namun, upaya pendeskriditan terhadap pribadi Ibnu Taymiyyah terus berlangsung. Dalam sebuah pertemuan di Kairo beliau dituduh meresahkan masyarakat melalui pendapat-pendapatnya yang kontroversial. Sang qadhi yang telah terkena hasutan memutuskan Ibnu Taymiyyah bersalah. Beliau diputuskan tinggal dalam penjara selama satu tahun beberapa bulan.

Dalam perjalanan hidupnya, ia tak hanya sekali merasakan kehidupan penjara. Tahun 726 H, berdasarkan fakta yang diputar balikkan, Sultan megeluarkan perintah penangkapannya. Mendengar ini ia berujar, "Saya menunggu hal itu. Disana ada masalah dan kebaikkan banyak sekali."

Kehidupan dalam penjara ia manfaatkan untuk membaca dan menulis. Tulisan-tulisannya tetap mengesankan kekuatan hujjah dan semangat serta pendapat beliau. Sikap itu malah mempersempit ruang gerak Ibnu Taymiyyah. Tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H, semua buku, kertas, tinta dan pena-nya dirampas. Perampasan itu merupakan hantaman berat bagi Ibnu Taymiyyah. Setelah itu ia lebih banyak membaca ayat suci dan beribadah. Memperbanyak tahajjud hingga keyakinanya makin mantap.

Setelah menderita sakit selama dua puluh hari, beliau menghadap Rabbnya sesuai dengan cita-citanya: mati membela kebenaran dalam penjara.
Hari itu, tanggal 20 Dzulqaidah 728 H pasar-pasar di Damaskus sepi-sepi. Kehidupan berhenti sejenak. Para Emir, pemimpin, ulama dan fuqaha, tentara, laki-laki dan perempuan, anak-anak kecil semuanya keluar rumah. Semua manusia turun kejalan mengantar jenazahnya.

Sumber: www.alsofwah.or.id
http://www.wahabiah.blogspot.com

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails